"Saya ini hanya guru mengaji di desa. Saya ingin mengabdikan hidup ini, kembali
mengaji. Meski berada di tahanan," kata Gus Shon, yang mengaku tetap mengaji bersama para santrinya, saat meringkuk selama 59 hari di Polda Jawa Timur.
Sebelum ditahan karena disangka terlibat dalam kerusuhan, Gus Shon biasanya menjadi penceramah dalam pengajian rutin tasawuf di pesantrennya, di Dusun Glonggongan, Desa Sumber Tebu, Kecamatan Bangsal, Mojokerto. Pesertanya merupakan warga sekitar.
Berbeda dengan Gus Shon, Makhrodji mengaku kangen dan rindu dengan keluarganya, di Dusun Glatik, Desa Wates Negoro, Kecamatan Ngoro, Mojokerto. Sebab Makhrodji Makhfudz dan para tersangka lainnya, meringkuk selama 59 hari di Polda Jatim.
"Saya ini setiap hari di luar. Sering menangani kasus, perekrutan CPNS dan kasus
korupsi di Pemkab Mojokerto. Sehingga jarang di rumah. Sekarang malah ditahan," kata Makhrodji dengan tersenyum dan terkekeh.
Selain rindu keluarga, Makhrodji juga merindukan suasana kebersamaan antar aktivis
LSM di Mojokerto. "Suasana cair di kantin Pemkab, berdiskusi itu juga sangat saya
rindukan," kata Makhrodji yang kerap dipanggil 'Pakde Rodji' oleh sebagian wartawan.
Gus Shon dan Makhrodji termasuk 21 tersangka kasus kerusuhan Pilkada Mojokerto. Gus Shon dan Makhrodji bahkan dianggap sebagai 2 dari 4 tersangka utama kasus kerusuhan itu.
(fat/fat)










































