COP 2010 dilaksanakan sejak 7 Juli hingga 4 Agustus 2010 mendatang, dengan lokasi yang dipilih adalah sejumlah daerah di lereng Gung Wilis di Kabupaten Kediri. Tepatnya 6 dusun di Desa Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, yaitu Blimbing, Mboso, Gunung Buthak Lor dan Selatan, serta Magersari.
Peserta COP ini terdiri dari 56 mahasiswa UK Petra, juga ada 64 mahasiswa asing yang terdiri dari 15 mahasiswa Inholland University (Belanda), 5 mahasiswa Hongkong Baptist University, 3 mahasiswa Chinese University of Hongkong, 11 mahasiswa International Cristian University (Jepang), 2 mahasiswa St Andrew's University (Jepang), serta 28 mahasiswa Dongseo University (Korea Selatan).
Staf Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UK Petra Nugraha Adi Pratama mengatakan, COP merupakan agenda tahunan yang telah diadakan sejak tahun 1994 silam. Program ini merupakan bagian dari service learning yang sengaja diadakan untuk lebih mendekatkan mahasiswa pada kahidupan masyarakat.
"Disini mahasiswa lebih ditekankan bagaimana bersosial dengan masyarakat yang ada, daripada praktik apa yang dipelajarinya di kampus," ungkap Nugik, sapaan akrab Nugraha saat berbincang santai dengan detiksurabaya.com di lokasi, Jumat (23/7/2010).
Meski demikian Nugik mengungkapkan, pihaknya tetap menekankan pentingnya peran nyata mahasiswa dalam pelaksanaan COP. Diantaranya melalui pengerjaan sejumlah program teknis dan non teknis yang telah direncanakan sebelumnya.
"Untuk itu dari 6 tim yang telah dipecah, setiap timnya kami bekali anggaran kerja 12 juta. Terserah mereka akan menggunakannya untuk apa, yang penting harus dapat dirasakan masyarakat," tuturnya.
Anna Hara (20), salah seorang mahasiswi asal International Cristian University Jepang, mengaku sangat senang dengan kegiatan COP yang diikutinya. Sejumlah program kerja diakuinya dilaksanakan di Dusun Gunung Buthak Utara, Desa Bulusari, diantaranya pembangunan toilet pada SDN Bulusari III, perbaikan kondisi bangunan TK, serta pengenalan budaya negara asalnya ke masyarakat sekitar.
"Kami cat tokoh-tokoh kartun Jepang di dalam kelas TK dan itu disambut baik anak-anak," ungkapnya dalam Bahasa Inggris yang terbata-bata.
Mengenai kultur masyarakat Indonesia, terutama di lokasi pelaksanaan COP, Anna mengaku tidak mempermasalahkannya. Diakuinya, masyarakat Indonesia sangat ramah dan berbeda jauh dari apa yang diketahuinya melalui siaran sinetron di layar kaca televisi. "I can expected, cause this my experience," ujar gadis yang mengaku sangat suka nasi goreng, tempe dan jajanan tradisional lain di Indonesia.
Pandangan yang sama disampaikan Song Hwa Jun, mahasiswa asal Dongseo University Korea Selatan berusia 26 tahun. Menurutnya, cuaca di Indonesia tak jauh berbeda dengan di negaranya, meski dia juga mengaku harus beradaptasi di awal-awal kedatangannya.
"Yang paling susah saya pelajari adalah mandi, karena disini harus pakai gayung, sedangkan di negara saya tinggal putar kran," ungkapnya diterjemahkan oleh dosen pendampingnya.
(wln/wln)











































