Penemuan itu dilakukan saat dinkes melakukan sidak makanan yang dijual bebas di luar sekolah. "Ada empat sampel yang kami ambil. Semuanya menandung boraks dan formalin," kata Eka S, kepada detiksrabaya.com usai sidak, Selasa (20/7/2010).
Makanan yang mengandung zat berbahaya itu yakni cengil, cireng, pentol dan batagor. "Untuk batagor, tahu-nya yang kami periksa," jelasnya.
Dalam pemeriksaan, makanan jenis cengil itu dihancurkan di dalam mangkuk kecil dan petugas dinkes mencampur dengan cairan HCL untuk memastikan ada kandungan berbahaya atau tidak.
Selanjutnya petugas mengambil potongan kertas untuk dicelupkan ke dalam cengil yang telah berubah menjadi bubur itu. Setelah beberapa saat, kertas itu kemudian diangkat. Hasilnya, kertas yang semula berwarna kuning keemasan itu dipenuhi bintik-bintik merah.
Selain itu, pemeriksaan juga dilakukan untuk mengetahui kandungan formalin. Ini dilakukan dengan mengambil cairan bubur cengil dan mencampurnya dengan bahan kimia tertentu. Hasilnya warna cairan terlihat keruh.
Eka menyebutkan, temuan yang sama juga terjadi pada tiga sampel makanan yang lain. Dengan kandungan 0,6-1,3 persen. Seperti cireng, pentol dan batagor. "Kalau batagor, itu mungkin di tahunya bukan tepungnya," tambahnya.
(fat/fat)











































