Museum Keraton Sumenep ini diresmikan pada tahun 1965. Terdiri dari 3 lokal bangunan dan 1 pendopo yang dulunya digunakan para raja. Lokasi pertama (bangunan pertama) di dalamnya terdapat 2 buah kereta dan barang antik lainnya. Dulu kereta kencana itu digunakan sebagai grasi kereta raja Sultan Abdurrahman yang memerintah tahun 1811-1854.
Dua bangunan lain yang berada di sebelah barat pendopo juga dijadikan museum kedua. Di dalamnya antara lain terdapat tempat tidur, peralatan perang serta bukti sejarah lain tentang Keraton Sumenep.
Bahkan, bangunan pendopo yang berdampingan lokasi pemandian dayang-dayang yang disebut 'Taman Sare' masih terjaga keasrian dan tidak ada perubahan bangunan. Pohon beringin berukuran besar dan sudah ratusan tahun umurnya menambah suasana keraton tempo dulu terasa.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Sumenep, Moh Nasir menjelaskan, pemerintah sengaja bekas keraton Sumenep dijadikan lokasi museum, sehingga para pengunjung dapat merasakan suasana keraton tempo dulu.
"Siapa yang berkunjung ke museum pasti akan merasakan seperti kerajaan tempo dulu. Sebab, semua benda-benda peninggalan raja dan bangunan masih utuh dan tetap dipelihara tanpa ada perubahan bentuk," kata Nasir saat berbincang dengan detiksurabaya.com di kantornya, Jalan Dr Soetomo, Selasa (20/7/2010).
Para tamu asing selalu disajikan gending-gending (kleningan) milik keraton Sumenep. Penari pun diambil dari asli warga Sumenep yang masih mempertahankan sikap dan pakaian adat keraton Sumenep.
"Setiap ada tamu dari mancanegara atau tamu khusus selalu disambut dengan musik dan tarian keraton. Ditambah dengan seni budaya lain yang saat ini masih mengakar di Sumenep seperti tong-tong dan macopat," tuturnya.
Nasir menambahkan, barang-barang peninggalan raja, banyak disukai pengunjung. Selain unik dan tidak ada di tempat lain, juga banyak cerita magis yang biasa diceritakan oleh pemandu wisata di museum pada tamu-tamu. (wln/wln)











































