Kerugian Diperkirakan Hingga Rp 800 Juta

Gudang Pemkab Terbakar

Kerugian Diperkirakan Hingga Rp 800 Juta

- detikNews
Senin, 12 Jul 2010 13:08 WIB
Kerugian Diperkirakan Hingga Rp 800 Juta
Tuban - Kebakaran yang meludeskan gudang Pemkab Tuban menyebabkan kerugian hingga Rp 800 juta. Itu terjadi karena peralatan SAR (Search And Rescue) yang harganya relatif mahal.

Selain itu gudang tempat penyimpanan yang terbakar kondisinya sangat parah. Atapnya runtuh dan sebagian sekat dan isinya rata dengan tanah setelah dimangsa api.

"Kami masih belum bisa menghitung berapa kerugian secara pasti yang diderita Pemkab Tuban akibat peristiwa ini. Sebab saat ini kami masih melakukan penyelidikan atas kejadian itu," kata Kapolres Tuban AKBP Nyoman Lastika saat ditemui wartawan di lokasi Jalan Kartini-Tuban, Senin (12/7/2010).

Sementara petugas dari jajaran Polres Tuban melakukan olah TKP. Mereka langsung memasang garis polisi (police line) di lokasi gudang. Menurut saksi mata, para staf pemkab telah berupaya memadamkan api dengan peralatan apa adanya sambil menunggu datangnya mobil pemadam kebakaran.

Namun upaya itu sia-sia, karena api cepat menjalar menyulut atap gudang. Api baru bisa dipadamkan setelah empat unit mobil pemadam kebakaran datang. Sedangkan sejumlah staf Pemkab Tuban menyatakan, 5 unit perahu yang terbaka rata-rata seharga Rp 100 juta per unit. Itu belum termasuk mesin tempel dan peralatan lain yang selama ini dikeluarkan saat bencana banjir terjadi di wilayah Tuban.

"Kalau ditaksir kerugiannya bisa sampai Rp 800 juta lebih mas," kata salah satu staf pemkab di lokasi usai kebakaran.

Bupati Tuban Hj Haeny Relawati yang dikonfirmasi detiksurabaya.com melalui Pjs Kabag Humas Pemkab Tuban, Joni Martoyo, menyatakan, saat ini pihaknya belum bisa menaksir jumlah kerugian yang diderita Pemkab Tuban. Termasuk penyebab kebakaran yang meludeskan seisi gudang penyimpanan peralatan penanggulangan bencana tersebut.

"Ini namanya musibah yang bisa terjadi dimana-mana dan kapan saja. Soal penyebab kebakatan dan jumlah kerugian saat ini masih diteliti," kata Joni Martoyo.

(fat/fat)
Berita Terkait