Sekujur tubuh korban penuh luka akibat reruntuhan batu. Jasad Suhadi langsung dilarikan ke rumah keluarga dnegan mobil ambulan milik Polres Tuban yang telah standby di lokasi bencana.
Pantauan detikdurabaya.com di lokasi, setelah jenasah Suhadi diangkat ke luar dari mulut goa isak tangis keluarganya yang menunggu di lokasi meledak. Mereka tak pernah membayangkan jika Suhadi meninggal karena tertimpa reruntuhan batu.
"Oalah Kang, kok sampai begini nasib sampeyan," kata kerabat Suhadi yang menunggui evakuasi.
Keluarga korban langsung ikut pulang mengiringi mobil ambulance. Mereka bakal langsung mengubur jenasah Suhadi ke TPU desa setempat. Menurut Sugito, salah satu penambang yang ikut mengevakuasi, besar kemungkinan 1 korban masih tertinggal di dalam goa meninggal. Itu karena kodisi reruntuhan telah menutup lorong.
Sedangkan teknis penambangan yang dilakukan warga, selalu berada di lorong paling unjung. Sehingga, begitu atap goa runtuh besar akan langsung menimpa penambang yang berada di bawahnya.
"Kita baru bisa mengeluarkan jenasah Kang Suhadi, setelah mengeruk reruntuhan batu kumbung. Makanya besar kemungkinannya yang masih ada di dalam sudah meninggal juga," katanya.
Kini tinggal menyisakan satu korban lagi yakni, Mardiyo, orangtua korban tewas yang ditemukan pertama, Saeful, asal Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Tuban. Warga memperkirakan Mardiyo juga telah tewas karena timbunan atap goa batu kumbung yang ambruk.
(fat/fat)











































