Usai Operasi Usus Buntu, Nurhayati Kurus dan Terbaring Lemah

Usai Operasi Usus Buntu, Nurhayati Kurus dan Terbaring Lemah

- detikNews
Senin, 28 Jun 2010 13:03 WIB
Usai Operasi Usus Buntu, Nurhayati Kurus dan Terbaring Lemah
Malang - Sejak 2 tahun lalu, Nurhayati (28) warga Jalan Imam Bonjol RT 10/RW 03, Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, berjuang melawan sakitnya. Kini dia harus terbaring di atas tempat tidur.

Ibu satu anak ini diketahui mengalami infeksi pada bekas luka operasi sebelum
dirinya melahirkan. Luka itu juga membuat kondisinya kurus kering akibat karena
terus menerus mengeluarkan cairan.

Kasus dialami Nurhayati bermula tindakan operasi dilakukan oleh tim medis RSUD
Kanjuruhan Kepanjen 10 November 2008 lalu. Tim dokter mendiagnosa korban mengalami usus buntu hingga harus dilakukan pembedahan. Pembedahan sendiri berjalan lancar, hingga korban dapat kembali pulang ke rumah.

Bapak satu anak ini mengaku keluhan pada perut istrinya itu dialami sebelum menikah. Setelah menjalin hubungan resmi dengan dirinya, Syaf'uddin mengajak ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi yang sebenarnya.

Masalah pun muncul pasca operasi. Luka bekas pembedahan mengalami infeksi hingga mengeluarkan cairan nanah. Parahnya, Nurhayati ternyata sedang berbadan dua. Usia kandungan semakin membesar membuat luka tersebut semakin parah.

"Kata dokter ketika awal membawanya ke rumah sakit. Istri saya mengalami usus buntu dan harus dioperasi. Sesuai dengan keluhan yang selalu diucapkan istri saya. Operasi langsung dilakukan meskipun saya sempat mengatakan bahwa istri saya tengah hamil. Dengan bukti tes kehamilan. Namun dokter mengatakan, operasi tidak ada berdampak pada kehamilan pasien," terang Syaf'uddin, suami Nurhayati ditemui di rumahnya, Senin (28/6/2010).

Luka terus parah saat Nurhayati menjalani rawat jalan. Sesekali Syaf'uddin membawa ke rumah sakit untuk kontrol infeksi yang dialami istrinya. Sampai akhirnya Nurhayati harus melahirkan bayi hasil pernikahannya dengan Syaf'uddin di RSU Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang 15 Juli 2009.

"Setiap kali saya mengeluh atas infeksi itu. Dokter mengatakan suruh minum obat dan makan teratur. Pasti akan sembuh," ujar Syaf'uddin seharinya bekerja serabutan ini.

Kondisi ini berlangsung hingga saat ini. Syaf'uddin harus berjuang seorang diri
merawat korban dan putrinya berusia 11 bulan. Cairan dikonsumsi korban setiap hari
akan kembali keluar melalui bekas luka pembedahan. Syafuddin mengaku tidak lagi
mempunyai biaya untuk membawa istrinya ke rumah sakit.

Apalagi surat keterangan miskin yang telah dibuat oleh Syaf'uddin tidak dapat
digunakan di RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Meskipun dirinya telah melalui tahapan yang ada.

"Empat kali saya mengurus surat keterangan miskin, dan ternyata tidak terdaftar di rumah sakit. Jadinya untuk membawa ke rumah sakit lagi, saya tidak mempunyai uang," ungkapnya.

(fat/fat)
Berita Terkait