Pemberian nama ini dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama antara 45 sesepuh Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, lokasi tempat berdirinya Gunung Kelud. Penamaan ini sendiri dilakukan setelah sebelumnya dilaksanakan larung sesaji di sekitar kubah lava.
"Memang ada wacana kesana dan itu sesuai dengan usulan sesepuh Desa Sugihwaras," kata Kabag Humas Pemkab Kediri, Eko Setiyono, membenarkan adanya penamaan anak Gunung Kelud tersebut, Senin (21/6/2010).
Lebih lanjut Eko menambahkan, nama Tunggul Argo dipilih karena dianggap sesuai dengan keberadaan anak Gunung Kelud tersebut, yang saat ini terus mengalami pertumbuhan. "Tunggul Argo itu adalam Bahasa Indonesia kan berarti tumbuh, jadi tepat kalau namanya itu," imbuhnya.
Pemberian nama secara khusus pada anak Gunung Kelud, juga dianggap penting. Ini tak lepas dari toponomi atau pemetaan asal-usul segala sesuatu di belahan dunia, yang memang diharuskan adanya sebuah nama. Cara yang sama juga dimaksudkan untuk mempermudah pengingatan dan promosi keberadaaanya sebagai lokasi wisata.
"Kalau memang itu sudah fix, Dinas Pariwisata akan segera mengusulkannya ke pihak terkait," tegas Eko.
Sebelumnya, kubah lava Gunung Kelud muncul pada November 2007, setelah sebelumnya diketahui hanya berbentuk benjolan berwarna hitam di tengah danau kawah. Kubah lava saat itu dianggap sebagai penyumbat jalur magma, hingga menjadikan letusan Gunung Kelud gagal terjadi, meski secara keilmuan dianggap sudah selayaknya meletus.
Informasi yang berhasil dihimpun detiksurabaya.com dari Pos Pantau Gunung Kelud di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar menyebutkan, ketinggian kubah lava saat ini mencapai 250 meter di atas permukaan laut (MDPL), dan diameter lebarnya mencapai 469 meter.
(bdh/bdh)










































