Dugaan tersebut diungkapkan Supriyanto, Kepala Resort Pemangku Hutan Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, atas dasar kejadian serupa bukan yang pertama kali terjadi. Lokasi hilangnya Sahrul Malik sejauh ini memang dikenal cukup angker.
"Apalagi kalau mendengar ceritanya dia kan hilang saat pamit (maaf) kencing. Entah salah pilih lokasi atau bagaimana, kemungkinan dia kok kalap (hilang disembunyikan mahluk halus)," ungkap Supriyanto saat berbincang santai dengan wartawan di sekitar peristirahatan 8 pecinta alam yang selamat, Rabu (16/6/2010).
Namun sayang, diminta menjelaskan lebih lanjut mengenai keangkeran di lereng Gunung Wilis, Supriyanto enggan melakukannya. Bahkan dia buru-buru meralat pernyataannya, dengan menganggapnya sebagai pendapat pribadi.
"Wallohualam lho ya. Itu perkiraan saya, karena memang di sini katanya angker," ujarnya sambil tersenyum.
Namun Supriyanto mengungkapkan kemungkinan lain penyebab keberadaan Sahrul Malik sulit diketahui. Yakni terjatuh di jurang lereng Gunung Wilis, saat buang air di sela-sela istirahat perjalanan pulang.
"Kalau sampeyan lihat, di kanan dan kiri daerah sini kan memang jurang. Bisa juga dia terpeleset atau bagaimana, sampai akhirnya jatuh ke jurang," jelasnya.
Sementara Kapolsek Sawahan AKP Sukarlin, dikonfirmasi kemungkinan korban hilangĀ disembunyikan mahluk halus enggan memberikan keterangan. Dia lebih memilih perkiraan korban terjatuh ke dalam jurang di sekitar lokasi peristirahatannya.
"Kemungkinan juga korban pulang lebih awal tanpa memberi tahu teman-temannya.
Makanya ada satu orang pecinta alam yang saya minta pulang, mengecek keberadaan korban di rumahnya," papar Sukarlin.
Sebelumnya, seorang anggota pecinta alam asal Kota Sidoarjo diduga hilang dalam perjalanan turun usai mendaki di Gunung Wilis. Korban, Sahrul Malik (33) hilang setelah sebelumnya berpamitan akan buang air kecil. (fat/fat)










































