Bowo, sapaan akrab korban, sempat dirawat selama 12 hari di RS. DanĀ Pada Selasa (7/06/2010) kemarin korban diperbolehkan pulang ke rumahnya. Namun perawatan medis yang dijalani bocah penggemar sepak bola tersebut sepertinya tidak sesuai harapan.
Karena mata kirinya yang tertusuk lidi belum juga sembuh. Bahkan dokter menyatakan jika luka di mata kirinya menyebabkan cacat permanen.
"Sebelum pulang ke rumah, dokter bilang kalau mata adik saya tersebut mengalami
kebutaan. Bahkan dibawa berobat ke Surabaya pun tidak akan menyembuhkannya," jelas Nana (27), kakak sepupu Bowo kepada detiksurabaya.com di rumahnya, Kamis
(10/6/2010).
Kini, Bowo hanya dirawat dirumah orang tuanya. Karena bapak dan ibunya tak ada
di rumah, ia dijaga oleh kerabat lainnya. Pelajar yang duduk dibangku kelas 5 SD
tersebut dirawat ala kadarnya. Bahkan obat dari RSUD Genteng, hanya obat generik.
Akibat kondisi kesehatannya itu, Bowo terlihat lebih kurus. Selain itu, dia terpaksa absen dalam ujian kenaikan kelas akhir tahun pelajaran ini. Menyikapi hal itu, pihak sekolah akan memberikan perlakuan khusus terhadap Bowo. Yakni, ujian kenaikan kelas susulan. Namun rencana itu akan dibahas lebih lanjut dalam rapat dewan guru.
"Ujian susulan akan kami berikan pada dia, karena itu hak dari siswa. Untuk
teknisnya masih kami rapatkan," jelas Kepala Sekolah SD Negeri 6 Jajag, Ribut
Ruminingsih kepada detiksurabaya.com di kantornya.
Sementara Mad Sulaeman (sebelumnya Amat), tukang kebun SD Negeri 6 Jajag, Gambiran, mengaku menyesal atas insiden pelemparan sapu lidi yang dilakukan. Dia
menyatakan bertanggung jawab atas kelalaian tersebut.
"Saya sungguh menyesal, tidak ada maksud untuk melukai siapapun. Saya bertanggung jawab atas peristiwa itu," jelas pria yang sudah menjadi tukang kebun selama 30 tahun.
Mad menambahkan, sejauh ini dia berupaya untuk menunjukkan itikad baik. Mulai dari mengobati dan merawat korban di rumah sakit. Bahkan, jika diizinkan dia akan merawat Bowo di rumahnya hingga sembuh.
Sebelumnya insiden pelemparan sapu lidi berujung petaka terjadi pagi hari sebelum jam sekolah dimulai, Kamis (27/5/2010) lalu. Saat itu sejumlah siswa kelas 5 termasuk korban sedang bermain bola.
Sayang, mereka bermain bola di dalam ruang kelas. Melihat hal itu, Mad Sulaeman,
berupaya untuk menegur. Sapu lidi yang biasanya dipakai untuk menyapu dilempar ke arah siswa.
Celakanya, lemparan tersebut berbuah petaka. Sapu lidi itu tepat mengenai wajah
korban. Dan seketika itu juga, wajah korban berlumuran darah karena tancapan puluhan lidi di wajahnya. Salah satunya menancap pada mata kiri korban. (fat/fat)











































