BPS mengakui, telah terjadi kesalahan analisa yang dilakukan petugas lapangan saat pengumpulan data. Akibatnya, memunculkan angka 165 dalam menghitung usia wanita yang kini masih segar bugar tersebut.
Kepala BPS Tuban, Abdul Jamil, menyatakan, sesuai hasil verifikasi ulang yang dilakukan petugas BPS ke lapangan, ditemukan bahwa umur Dasiyem tak sampai 165 tahun. Setelah dilakukan penelitian kembali dengan beberapa indikator penelitian, diantaranya tentang persamaan kejadian dan pengakuan keluarga.
"Saya merasa tak nyaman dengan munculnya berita itu, untuk itu kita lakukan verifikasi ulang ke lapangan. Ini sekaligus klarifikasi bahwa Dasiyem tidak berumur 165, namun sekitar 109 hingga 110 tahun," tegas Abdul Jamil, kepada wartawan di kantor BPS Tuban, Jalan Mastrip 21, Kamis (27/5/2010).
Sesuai hasil verifikasi ulang di lapangan, ungkap dia, Dasiyem menikah pada usia 14
tahun. Pernikahannya hanya berumur 2 tahun lalu cerai tanpa anak. Pada umur 16 tahun ia menikah lagi hingga usia perkawinannya 5 tahun, juga tanpa anak dan bercerai. Lalu pada perkawinan ketiganya ia memiliki anak, saat itu usianya 26 tahun.
Saat ini anak pertama Dasiyem berusia 83 tahun, dan anak terakhirnya (anak nomor 6) terlahir tahun 1948. Anak pertama Dasiyem yang bernama Ruminah di zaman penjajahan Jepang tahun 1942 baru berumur 15 tahun. Sehingga dihitung berdasarkan temuan itu usia Dasiyem belum sampai 165 tahun.
"Hal itu juga sesuai pengakuan Bu Dasiyem dan Ruminah, anak Dasiyem. Termasuk juga didukung beberapa data dari lapangan lainnya," tambah Abdul Jamil, didampingi sejumlah petugas lapangan BPS yang diterjunkan. (bdh/bdh)










































