Dibandingkan awal tahun 2009 lalu, Ponari bisa menyedot 20 ribu pasien perhari. Dengan pemasukan Rp 1,3 miliar. Para pasien saat itu hanya membeli kupon seharga Rp 10 ribu dan mengisi kotak amal seikhlasnya.
Dari hasil kekayaan tersebut, Ponari bisa membangun rumah untuk orangtuanya dengan membeli tanah di depan rumahnya, membangun mushola dan membeli sawah sebanyak 5 hektar. Sawah tersebut dikelola bapak dan kakeknya yang biasa menggendong Ponari, Pak Mat.
Namun sejak pertengahan 2009 lalu dan ditutup polisi, omzetnya hanya berkisar ratusan ribu. Para pasien tidak perlu membeli kupon, hanya mengisi kotak amal yang disediakan di rumahnya.
"Pasiennya tidak seperti dulu, sekarang hanya mengisi kotak amal saja. Orang-orang ada yang mengisi Rp 10 ribu-Rp 20 ribu," kata ibu Ponari, Mukaromah kepada detiksurabaya.com di rumahnya, Kamis (27/5/2010).
Uang tersebut, kata dia, untuk memenuhi kebutuhan Ponari sehari-sehari. Para pasien yang datang membawa air lalu batu petirnya dicelupkan. "Prosesnya seperti dulu, hanya dicelupkan batu petir sebentar," tambahnya.
Meski jumlah pasiennya hanya belasan, sikap Ponari tidak berubah. Selain manja, Ponari selalu minta digendong oleh orangtua dan kakeknya saat mengobati pasien. (fer/fat)










































