Entah darimana asalnya, mitos yang seolah sudah menjadi aturan tidak tertulis bagi nelayan Rajegwesi-Sukomade ini. Meski begitu, masyarakat tetap mematuhinya. Mereka yakin, akan dampak negatif yang ditimbulkan jika mencoba melanggarnya.
Pantangan yang pertama adalah mencuci baskom atau wadah ikan di laut. Yang kedua, yakni menjaga mulut dari segala ucapan kotor, terutama ucapan jorok. Selanjutnya adalah pantang untuk menutupi ikan yang baru saja ditangkap menggunakan baju kaos.
"Jika dilanggar, biasanya keesokan harinya ombak laut menjadi besar dan terjadi sepanjang hari," jelas Ninik, juragan ikan Pantai Rajegwesi, saat berbincang dengan detiksurabaya.com, di teras rumahnya, Rabu (26/5/2010).
Jika sudah begitu, para nelayan akan kesulitan untuk menangkap ikan. Karena sangat berisiko tinggi. Selanjutnya bisa dipastikan di hari itu juga nelayan tidak mendapat pemasukan untuk menghidupi keluarganya.
Entah faktor kebetulan atau faktor lainnya, banyak warga bercerita jika hal itu memang benar adanya. Sebab itu pula, nelayan setempat berusaha untuk tidak melanggarnya. Taruhannya bukan nyawa, melainkan mampetnya rezeki keluarga mereka.
"Kami saling mengingatkan saja, untuk berbuat yang benar," tutur Suyono, Kepala Dusun Rajegwesi, saat mendampingi detiksurabaya.com. (bdh/bdh)










































