Sunardi yang menjadi sopir bus tewas tergencet bus sembari memeluk anaknya yang juga siswi TK PGRI 2, sedangkan istrinya meninggal dunia di perjalanan karena luka di kepala dan dada.
Pihak keluarga Titik Indah Ati, Suwito (60) mengaku mendapat firasat jika sebelum tewas, salah satu cucunya, Lusita, menghubungi neneknya. Saat itu Lusita mengaku pamit akan pulang setelah rekreasi. Selama ini mereka kontrak rumah di Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro.
"Sebulan yang lalu, cucu saya Lukita akan rekreasi dan berjanji akan pulang ke rumah neneknya untuk bermain," kata Suwito sembari bercucuran air mata di rumahnya Desa Jatituri Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar kepada wartawan, Rabu (19/5/2010).
Rencananya, kata Suwito, menantu, cucu dan anaknya akan dimakamkan di satu lubang di TPU Turi desa setempat.
Dari pantauan detiksurabaya.com, puluhan warga tampak membanjiri rumah korban dan melayat. Sementara orangtua sopir bus, Luginem (60) tampak shock menangis tersedu-sedu. Beberapa kerabat mencoba menenangkan dan memegangi tubuhnya.
Sebelumnya, bus pariwisata yang membawa 50 penumpang TK PGRI 2 dan orang tuanya asal Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, rekreasi ke Pantai Tambakrejo.
Namun saat melintas di kawasan Desa Kampungledok Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, bus tak kuat menanjak hingga masuk jurang sedalam 200 meter sekitar pukul 17.00 WIB, Selasa (18/5/2010). Akibatnya 7 tewas, 2 luka berat dan 25 orang luka ringan. (fat/fat)










































