"Setelah diukur dari jarak 30 centimeter kandungan gasnya sebesar 18 persen," kata wakil Humas BPLS, Achmad Khusairi, kepada wartawan di SDN Ketapang Keres, Tanggulangi, Kamis (22/4/2010).
Untuk mengatasi dampak gas dan air lumpur yang keluar, BPLS berencana membuat separator guna membuang gas metan ke udara, serta mengalirkan air lumpur ke selokan. "Terus kita pantau, dan kita buatkan separator," ujar Achmad Khusairi.
Achmad Khusairi, juga mengimbau kepada para siswa untuk tidak mendekati bubble yang saat ini sudah diberi garis pembatas. Pasalnya, gas metan yang keluar bersama air lumpur itu sangat berbahaya.
Sementara, selain muncul semburan lumpur, penurunan tanah juga terlihat di lokasi sekolah yang berjarak sekitar 1 km pusat semburan lumpur Lapindo itu.
Dari pengamatan detiksurabaya.com, beberapa ruang kelas di SDN Ketapang Keres yang berada 100 meter dari tanggul penahan lumpur Lapindo juga terlihat mulai rusak, akibat dampak penurunan tanah. Lantai yang berada di ruang kelas 4, sebagian terlihat pecah, dan susunannya tidak beraturan. (bdh/bdh)










































