Terbukti puluhan warga yang tergabung dalam Serikat Masyarakat Miskin Indondesia (SRMI) Tuban menggelar unjuk rasa menuntut Satpol PP dibubarkan di kantor Pemkab Tuban.
Selama aksi berlangsung, puluhan petugas Satpol PP Pemkab Tuban tak muncul. Ironis dari serangkaian aksi warga sebelumnya, mereka biasanya petentang-petenteng. Bahkan cenderung represif terhdap pengunjuk rasa. Hanya sejumlah petugas Polres Tuban yang mengamankan aksi tersebut.
Tuntutan utama dalam aksi ini adalah meminta Satpol PP di Kabupetan Tuban dibubarkan karena dianggap tidak berguna dan hanya menyengsarakan masarakat miskin saja.
"Tidak hanya di Priok. Di Tuban juga petugas Satpol PP kerap bertindak merugikan masyarakat. Seperti menggusur PKL, merazia pengamen dan sebagainya. Karena itu, bubarkan saja Satpol PP," teriak Untung, Koordinator aksi dalam orasinya di depan Kantor Pemkab Tuban, Kamis (15/4/2010).
Menurutnya, masyarakat miskin mengecam tindakan Satpol yang telah menggusur hingga membuat warga di Tanjung Priok meninggal dunia karena dianiaya. "Yang dilakukan Satpol PP tidak manusiawi. Mereka memukuli warga seenaknya sendiri. Mereka itu tak ubahnya para preman yang berseragam. Jadi harus dibubarkan," sambung Untung diamini pengunjuk rasa lainya.
Selain pembubaran Satpol PP di Tuban, massa juga menuntut agar Satpol PP di daerah lain juga ikut dibubarkan. Alasanya juga sama, Satpol PP dimanapun berada dianggap hanya sebagai alat untuk mememuluskan kepentingan pemilik modal atau para penguasa.
Setelah puas berorasi, massa kemudian membakar poster-poster yang bertuliskan kecaman terhadap Satpol agar segera dibubarkan. Tak sampai lama setelah itu, massa kemudian membubarkan diri meski belum bertemu dengan satupun perwakilan dari Pemkab Tuban.
(fat/fat)











































