Hal tersebut disampaikan dr Iradat Sujono, Kepala UPTD Puskesmas Mojo, saat ditemui detiksurabaya.com di rumah dinasnya, Kamis (8/4/2010). Menurutnya, sebutan autis pada keanehan yang ditunjukkan Eri, juga tampak pada sikap psikologinya yang tak menghiraukan orang-orang di sekelilingnya.
"Autis memang seperti itu. Jadi penderitanya seakan memiliki dunianya sendiri, yang bahkan kita orang dewasa tidak bisa mengetahuinya," ujar Iradat tegas.
Untuk keterlambatan penanganan yang terjadi pada Eri, terbukti pada penanganan Puskesmas Mojo yang baru dilakukan ketika Eri sudah mengalami keracunan untuk kesekian kalinya.
"Tapi jangan terus kami disalahkan yang terlambat, karena memang orangtuanya yang tidak memperhatikan kaanehan tersebut dengan tidak melaporkannya ke kami," imbuhnya.
Lebih lanjut Iradat mengungkapkan, kelainan autis pada tingkatan parah memang bisa menjadikan penderitanya memiliki kebiasaan aneh, seperti yang ditunjukkan Eri dengan makan dan minum segala sesuatu yang dilihatnya. Untuk penanganan saat ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri diakuinya juga, sudah memberikan obat secara gratis yang bisa ditebus sekali dalam 10 hari di RSUD Pelem.
"Obat itu sendiri fungsinya untuk menjadikannya tenang dan lebih bisa dikendalikan," ungkap Iradat.
Meski demikian, dalam kelainan autis penyembuhan diangap tidak hanya bisa dilakukan dengan obat. Ketelatenan orangtua dan keluarga terdekat untuk selalu memberikan perhatian lebih juga dianggap sangat penting.
"Bahkan kalau boleh disimpulkan itu yang paling penting, karena sekaligus bisa menekan kebiasaan anehnya tersebut. Jangan sampai anak seperti ini dibiarkan lepas, terus akhirnya mengkonsumsi sesuatu yang bisa membahayakan nyawanya," pungkas Iradat.
(bdh/bdh)











































