Aksi nekat tersebut dilakukan Subani melalui ancaman lisan yang disampikannya ke anggota KPUD Kabupaten Kediri, Senin (5/4/2010). Tindakan ini sendiri dilakukan setelah upaya perbaikan berkas dukungannya ditolak KPUD.
"Kalau Pak Edi menolak, lebih baik saya bunuh diri saja. Saya sudah nggak kuat menahan desakan rakyat, yang mendorong saya untuk jadi bupati," ujar anggota KPUD Kabupaten Kediri, Imam Afandi, menirukan apa yang diutarakan Subani, saat ditemui detiksurabaya.com di kantornya.
Menanggapi acaman tersebut, Imam menambakan, pihaknya langsung berusaha meredamnya dan meminta Subani tidak melakuka aksi nekatnya. "Tadi Pak Edi sendiri yang meredamnya sampai akhirnya dia menerima dan memilih pulang," imbuhnya.
Terpisah Ketua KPUD Kabupaten Kediri, Agus Edi Winarto, dikonfirmasi mengenai acam trsebut justru berusaha menutupinya dan meminta agar wartawan tidak menulisnya.
"Walah omongannya Subani gak usahlah dituruti. Kalau sampeyan tulis malah lucu nanti beritanya," ujar Agus.
Meski demikian, Agus bersedia mejelaskan jika Subani memang sudah tidak bisa melakukan perbaikan berkas dukungan, mengingat pencalonannya sudah dinyatakan gugur sejak awal. Dari batas minimal pemenuhan dukungan untuk bakal calon dari jalur independen sebanyak 44.141, Subani hanya menyerahkan tak lebih dari 41.000 lembar dukungan berbentuk copy KTP.
"Beda kalau dukungannya dinyatakan cukup dan lolos tahap administrasi, karena kalau seperti itu masih bisa melakukan perbaikan," jelas Agus.
Subani mendaftar sebagai bakal calon bupati dari jalur independen dengan menggandeng Masruki sebagai bakal calon wakil bupati. Uniknya, setelah dinyatakan gugur dia tidak menyerah dan berusaha melakukan perbaikan berkas, namun nama bakal caon wakil bupati berpindah tangan ke Imam Syafi'i.
"Dari gonta-gantinya pasangan itu saja sebenarnya bisa dilihat, Subani itu orangnya bagaimana," pungkas Agus sambil menjelaskan kepribadian Subani.
(bdh/bdh)










































