Kembar siam asal Dusun Papar Kidul, Desa/Kecamatan Papar tersebut meninggal dunia di RSUD Pelem, Rabu (24/3/2010) lalu. 2 hari pasca dilahirkan melalui operasi caesar di RS Amelia, keduanya memang dipindahkan ke RSUD Pelem dengan alasan ketersediaan ruang perawatan.
"Catatan kami, kedua bayi meninggal sekitar pukul 17.00 WIB lewat 45 menit," ungkap Humas RSUD Pelem Abdul Roziq, saat dikonfirmasi detiksurabaya.com, Jumat (26/3/2010).
Roziq menjelaskan, penyebab kematian bayi kembar siam tersebut ada dua hal. Yang pertama keterbatasan kemampuan gerak, karena kondisinya yang mengalami dempet dada hingga perut. "Sitok ngidul bayi sijine yo kudu melok ngidul, dadine angel ngono lho mas. (Satunya ke selatan bayi satunya ya ikut ke selatan, jadinya sulit gitu lhoi mas)," jelasnya.
Penyebab kematian kedua yakni hipotermi atau kedinginan, yang dimungkinkan terjadi karena keduanya dirawat di ruang terbuka dengan fasilitas AC. Tim perawat di RSUD Pelem mengaku sengaja merawatnya di kamar perawatan biasa, dan tidak diincubator dengan alasan pertumbuhan bayi yang sudah mulai membesar.
"Ya umumnya bayi 16 hari kan memang sudah tidak dirawat diincubator. Apalagi keduanya juga tidak tampak prematur," tegas Roziq.
Roziq mengaku kedua orang tua bayi kembar siam tampak legowo menerima kematian anaknya. Hal ini setelah pihak keluarga diakui pesimis melihat kondisi anaknya, yang terlahir dalam kondisi dempet dada hingga perut. "Malam itu juga dibawa pulang, dan kabarnya juga langsung dimakamkan," pungkasnya.
Sebelumnya, bayi kembar siam dempet dada hingga perut lahir di RS Amelia, dengan panjang 42 centimeter dan berat 4200 gram. Dari hasil diagnosa radiologi dan foto rontgen, organ tubuh bayi berjenis kelamin perempuan dimungkinkan lengkap, yaitu memiliki jantung terpisah diantara keduanya.
(fat/fat)











































