Peristiwa itu bermula dengan kedatangan seseorang yang mengaku akan memberikan pelajaran ekstrakurikuler. Setibanya di sekolah pria yang diduga dari Jawa Tengah itu langsung menyampaikan niat kedatangannya.
Penampilan pelaku serta kemampuannya berdiplomasi langsung menghilangkan kecurigaan pihak sekolah. Bahkan selama praktek berlangsung di salah satu ruang kelas, tidak satu pun guru yang mendampingi.
"Pelaku mengajari para siswa cara membuat shampoo," ujar Kasatreskrim Polres Pacitan, AKP Sukimin, saat dihubungi detiksurabaya.com, Rabu (24/3/2010).
Sebelum kegiatan berlangsung, pelaku sempat mengingatkan para siswa yang memakai perhiasan agar melepasnya. Pelaku berdalih, reaksi kimia dari bahan shampoo dapat menimbulkan bahaya.
Mendengar pemberitahuan itu, anak-anak yang baru berusia belasan tahun itu kontan melepas perhiasannya. Mereka lalu mengumpulkannya kepada pelaku dengan terlebih dahulu menandai dengan nama masing-masing.
Saat itulah muncul niat pelaku untuk melarikan perhiasan yang ada di tangannya. Ketika para siswa asyik praktek membuat shampoo, pelaku pamit meninggalkan mereka. Ia beralasan akan mengambil alat yang tertinggal di SD lain.
"Pihak sekolah baru sadar terjadi penipuan setelah ditunggu sehari penuh pelaku tidak kunjung kembali," imbuh Sukimin.
Akibat kejadian tersebut, 7 siswa mengalami kerugian jutaan rupiah. Sementara sampai saat ini aparat kepolisian masih melakukan identifikasi dan mengejar pelaku.
Kasatreksrim kembali mengimbau masyarakat untuk tidak langsung percaya pada orang yang baru dikenal. Terlebih jika lokasinya di sekolah dengan siswa berusia anak-anak.
"Seharusnya pihak sekolah mendampingi," sesalnya.
(bdh/bdh)










































