Granat pertama kali ditemukan M Hafid (22) dan Suryati (44). Keduanya adalah kuli bangunan yang bekerja di rumah Wawan pada Minggu (21/3/2010).
Informasi yang dihimpun, saat itu Hafid dengan Suryati hendak mengayak pasir untuk keperluan bangunan saat itu di dalam pasir ditemukan besi bulat. Awalnya Hafid mengira itu hanya bongkahan tanah keras, namun menurut Wawan barang itu berbahaya.
Mereka kemudian melaporkan temuannya itu polisi, untuk memastikan apakan granat jenis nanas itu aktif atau tidak. Polres Situbondo tiba dilokasi dengan membawa tim penjinak bahan peledak (Jihandak) dari Polda Jatim.
Dari hasil analisa sementara, diperoleh keterangan kalau granat tersebut sudah tidak aktif, namun masih mengandung bahan peledak di dalamnya. "Secara teori detonator sudah dalam kondisi tidak aktif karena berkarat, akan tetapi bahan peledak itu diduga kuat masih ada, sehingga peluang untuk meledak juga ada," kata Waka Polres Situbondo Kompol Heru Prasetyo kepada wartawan.
Heru mengungkapkan granat itu merupakan standar militer dan diduga peninggalan perang dunia kedua. Menurut dia granat dengan bentuk itu sudah tidak lagi digunakan militer di Indonesia.
"Namun harus dilakukan analisa lagi, apakah betul granat itu peninggalan perang dunia kedua. Apakah Situbondo juga pernah menjalani perang dunia kedua atau tidak," tandasnya.
(wln/wln)











































