Diusir Keluarga, Penderita Kusta Hidup di Hutan dengan Anak Angkat

Diusir Keluarga, Penderita Kusta Hidup di Hutan dengan Anak Angkat

- detikNews
Kamis, 18 Mar 2010 17:20 WIB
Diusir Keluarga, Penderita Kusta Hidup di Hutan dengan Anak Angkat
Surabaya - Seorang penderita penyakit kusta, Suryadi (40) asal Waru, Kabupaten Pamekasan, Madura terpaksa hidup di tengah hutan Desa Rombasan, Kecamatan Pragaan, Sumenep.Seminggu lalu, Suryadi dijauhi warga dan diusir dari keluarganya. Suryadi pun akhirnya hidup bersama anak angkatnya, Fani yang masih berusia 8 tahun.

Sejak Minggu (14/3/2010) lalu, Suryadi memutuskan hidup di tengah hutan Desa Rombasan, Kecamatan Pragaan, Sumenep. Di tengah hutan tersebut hidup di alam bebas tanpa bekal apapun. Alas tidur hanya dari karung bekas pupuk tanpa ada penutup. Meski saat hujan berteduh di bawah pohon rindang namun kondisinya tetap basah kuyup.

Anak angkatnya juga terlihat ikhlas menemani tanpa ada teman sebaya. Fani yang terlihat pemalu itu juga rela mencuci baju bapaknya ke mata air terdekat di hutan tersebut. Bahkan Fani sesekali keluar hutan untuk membeli nasi bungkus tanpa ikan. Selama hidup di hutan hanya bisa makan 2 kali dalam sehari. Uang yang dibelikan nasi tersebut sisa dari ongkos sewaktu pulang dari Banyuwangi.

"Saya akan bertahan hidup di hutan ini, sebab keluarga dan warga sudah tidak lagi simpati," kata Suryadi kepada wartawan di tengah hutan Desa Rombasan, Kecamatan Pragaan, Sumenep, Kamis (18/3/2010).

Awalnya, pria yang terlihat kaku pada tulang paha kanannya akibat kecelakaan 2 tahun lalu itu se-rumah dengan istrinya di Muncar Banyuwangi sejak membangun rumah tangga 15 tahun silam.

Namun karena sering cek cok dan penyakit kusta yang dinilai menular, maka Suryadi diusir oleh istrinya hingga akhirnya memutuskan pulang kampung ke Waru Pamekasan. Ketidak harmonisan dalam rumah tangganya tersebut sudah berlangsung sejak setahun lalu karena himpitan ekonomi.

Dinilai tidak hanya memberatkan kebutuhan keluarga dan penyakit kusta yang semakin tidak kunjung sembuh, akhirnya diusir dari rumah istrinya. Namun nasib baik tidak memihak, semua kerabat di Madura juga menolak kehadirannya karena penyakit kustanya yang terlihat sudah membusuk dibagian kedua betis hingga kaki.

Sementara Kepala Desa Rombasan, Kecamatan Pragaan, Sumenep, Mukhlis Hidayat berjanji akan membuatkan rumah gedek (terbuat dari bambu) hasil gotong royong warga.

"Warga saya akan membuatkan rumah dan akan membantu makanan secukupnya," ujar
Mukhlis pada wartawan di rumahnya, Desa Rombasan, Kecamatan Pragaan, Sumenep. (fat/fat)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini