Menurut Ngatimin (30), kakak kandung Jahroji saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Rabu (11/3/2010) siang mengaku tindakan keluarga hanya beralasan Jahroji tidak membahayakan keselamatan anggota keluarga.
"Kami hanya takut, jika melukai ibu atau anggota keluarga lain. Untuk itu kami memasungnya di sini," ujar Ngatimin.
Putra keenam dari tujuh bersaudara ini, hampir sepanjang hari menghabiskan diri di sebuah ruang terbuka berukuran dua kali tiga meter beratap genting di belakang rumah orang tuanya.
Ngatimin, mengaku telah melakukan upaya pengobatan terhadap adik kandungnya tersebut, dengan membawa ke rumah sakit. Namun, Jahroji, sendiri memilih kabur meninggalkan rumah sakit. "Pernah mas untuk mencari kesembuhan, saya bawa ke rumah sakit ataupun ke orang pintar. Tapi ya begini ini tetap saja," ujarnya.
Setiap hari, lanjut Ngatimin, anggota keluarga secara bergantian memberikan makan dan memandikan Jahroji.
Keluarga sendiri mengaku sejak usia sekitar 17 tahun, Jahroji telah mengalami sedikit gangguan mental. Terhitung sudah sejak saat itu keluarga memasung lelaki tersebut. "Kalau dilepas bahaya, pergi kemana-kemana, kami takut jika terjadi apa-apa," tegas Nuriyah (27), kakak kandung Jahroji lainnya.
Nasib yang dialami oleh Jahroji pun mendapatkan tanggapan dari Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang, HM Sanusi. Politisi PKB ini pun menyempatkan diri mendatangi rumah Jahroji.
Sanusi, berjanji akan mengupayakan Jahroji mendapatkan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) agar nantinya dapat menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa tanpa mengeluarkan biaya. "Kami akan mengusahakan pengurusan jamkesda bagi Jahroji agar segera mendapatkan perawatan medis di rumah sakit," tegasnya.
Jahroji Sempat Dalami Ilmu Kanuragan
Sebelum mengalami gangguan mental, Jahroji diketahui pernah mendalami ilmu kanuragan. Menurut Sai'in (40), kerabat Jahroji bahwa terakhir Jahroji belajar ilmu diduga kuat sebagai ilmu meringankan tubuh.
"Dulu sebelum seperti ini, anak ini belajar meloncat dan terbang. Kemudian pada suatu hari jatuh ke lantai. Pada waktu jatuh itu kepalanya membentur lantai," kata Sai'in. Sejak saat itu, keseharian Jahroji mulai berubah. Bukan seperti kondisinya sebelum kejadian tersebut.
Sai'in mengaku dirinya sempat memperingatkan kepada Jahroji bersama teman-temannya agar tidak mempelajari ilmu atau amalan seperti itu. Namun, teguran dirinya tidak dianggap oleh mereka.
"Dia belajar dengan teman-temannya lain. Sejak jatuh itu Jahroji berubah dan seperti terlihat ada kelainan pada kondisi mentalnya," imbuh Sai'in. (bdh/bdh)











































