Dinkes Tuban Berupaya Bantu Valdo

Balita Kelainan Empedu

Dinkes Tuban Berupaya Bantu Valdo

- detikNews
Kamis, 25 Feb 2010 15:13 WIB
Dinkes Tuban Berupaya Bantu Valdo
Tuban - Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban tetap berupaya membantu masalah yang menimpa balita kelainan empedu, Valdo Ivander Achzar (5 bulan). Pihak dinkes masih mengurus Jamkesmasda untuk keluarga pasien, Saiful Achzar (23) dan Suyutik (26).

"Kita masih mengupayakan agar keluarga tak mampu itu bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dari program Jamkesmasda," kata Kepala Dinkes Tuban Dr Trihadi Sanyoto kepada wartawan di kantornya, Kamis (25/2/2010).

Dia mengaku, pihak Dinkes Tuban belum bisa merekomendasi SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu)  yang diajukan Saiful untuk pengobatan anaknya. Itu karena nama keluarga tersebut belum masuk daftar PPLS (Program Pendataan Lindungan Masyarakat).

"Saat ini sudah diverifikasi BPLS. Semoga semakin cepat selesai agar segera mendapatkan pelayanan kesehatan kepada anaknya," tambah Trihadi.

Dijelaskan, peserta Jamkesmas di Kabupaten Tuban jumlahnya mencapai 344.919 jiwa. Itu sesuai data BPLS tahun 2005, dan yang masuk adalah warga sangat miskin dan warga miskin. Sedangkan untuk warga mendekati miskin, sudah didata oleh BPLS tahun 2008 yang saat ini masih dalam proses di Pemprov Jatim.

"Pemkab Tuban saat ini juga masih melakukan penyelesaian pendataan calon peserta Jamkesmasda. Bagi yang sudah terdata, selanjutnya dilakukan verifikasi oleh BPLS," terangnya.

Menurut dia, pihaknya hanya bertugas memberikan pelayanan kesehatan pengguna data
miskin BPS. Dinkes juga tidak berhak menolak atau menerima. "Sesuai prosedur kalau sudah masuk data BPLS maka pasti akan kita layani. Khusus masalah Valdo, kita bisa enerima karena belum terdaftar," ujar Trihadi.

Sementara kondisi Valdo semakin hari semakin menghawatirkan. Sejak pertama kali terdeteksi menderita Atresia Bilier, tubuhnya terus menguning. "Menurut keterangan dokter, anak saya ini harus segera dioperasi untuk dibuatkan saluran empedu. Kalau tidak akan berakibat fatal," kata Ny Suyantik, ibu kandung Valdo, saat ditemui di rumahnya Kelurahan Sendangharjo Gang II No.99 RT III RW III Kecamatan/Kabupaten Tuban.

Dia mengaku anak pertamanya tersebut menderita kelainan saluran empedu sejak lahir. Tapi, kondisi itu baru diketahui sejak Valdo berusia 16 hari. Saat itu matanya terlihat berwarna kuning. "Saat itu, kami membawa Valdo berobat ke dokter dan dinyatakan bahwa kurang cairan. Saran dokter, anak saya harus lebih banyak dikasih minum dan dijemur matahari," kisahnya.

Saran dari dokter itupun terus dilakukan sampai Valdo berusia 4 bulan. Namun, tidak ada perubahan sama sekali pada tubuh Valdo. Bahkan, semakin hari kondisinya semakin parah hingga sekujur tubuhnya ikut menguning.

Di rumah sakit ini Valdo menjalai rawat inap hingga 9 hari. Dan hasil diagnosa menyebutkan bahwa saluran empedu anak pertama keluarga ini tidak terdeteksi. Karena itu, pihak dokter menyarankan agar Valdo dirujuk ke RSU dr Soetomo Surabaya.

Tanpa pikir panjang, pihak keluarga langsung membawa Valdo ke Surabaya untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Setelah dilakukan pemeriksaan. Dokter menyatakan anak kami menderita Atresia Bilier dan harus dioperasi untuk dibuatkan saluran empedu.

Saat itu, pihak keluarga sudah menyatakan kalau tidak masuk daftar Jamkesmas atau Jamkesda. Namun, RSU dr Soetomo berusaha meringankan dengan memberi kesempatan pihak keluarga untuk mengurus SKTM. Tapi, upaya itu kandas di Dinkes Tuban lantaran keluarga Saiful tidak termasuk daftar PPLS.

Sebelum dibawa pulang, dokter sempatmenyatakan bahwa kondisi Valdo bakal terus memburuk jika belum dilakukan operasi untuk dibuatkan saluran empedu. Hal itu juga membuat keluarga sederhana ini semakin panik karena harus secara cepat melakukan operasi terhadap Valdo.

(fat/fat)
Berita Terkait