Dengan ditemani oleh orangtuanya, Eka Sholihin (39), Sunarti (27) dan neneknya, Eka Winarti (55), Eka tampak baru bangun. Dengan menggunakan mobil ambulance RSSA Malang, bocah asal Jalan Kyai Agus Salim, Desa Clumprit, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, ini berangkat sekitar pukul 12.30 WIB.
"Pasien harus menjalani MRCP, karena di sini fasilitas itu tidak ada. Maka kami rujuk ke Surabaya," jelas salah seorang spesialis anak, dr Satrio Wibowo SpA kepada wartawan saat jumpa pers di RSSA Malang Jalan Jaksa Agung Suprapto.
Menurutnya, tindakan MRCP ini dilakukan untuk diagnosis adanya temuan kelainan empdeu dan hati pada diri pasien. Meski begitu kondisipasien membaik setelah menjalani perawatan medis di RSSA Malang selama hampir 2 pekan. "Kondisi membaik hingga saat ini. Upaya selanjutnya masih menunggu hasil MRCP tersebut," jelas Satrio.
Tentang biaya selama berada di RSU Dr Soetomo, lanjut Satrio, pihak RSSA Malang mengusahakan penggunaan kartu keterangan miskin. Sementara Hasil diagnosa tim dokter yang menangani Eka di RSSA Malang menemukan beberapa temuan tidak lazim. Diantaranya, chlestasi atau keanehan pada saluran empedu, alpasia vesika teka yakni tidak berfungsinya empedu, sirosis hepatitis, cholangitis yakni empedu Eka tidak tumbuh normal dan ditemukan infeksi pada empedu Eka dari cytomegalo Virus (CMV).
"Lima temuan itu hasil diagnosa kami pada pasien. Semua itu bisa disebabkan karena cacat bawaan dari lahir atau karena infeksi," ungkap Satrio.
Satrio membantah jika penyakit yang dialami oleh Eka sama persis dengan yang dialami Bilqis yakni Atresia Bilier. Karena Eka yang dialami Eka dalah tidak berfungsinya empedu.
Secara terpisah Sholihin ayah kandung Eka mengaku pasrah dengan langkah dokter untuk mencari kesembuhan Eka. "Saya sudah siap mas, apapun yang akan dilakukan oleh dokter," tegasnya kepada detiksurabaya.com saat di ambulance.
(fat/fat)











































