Benjolan di lehernya ini muncul saat duduk di kelas 2 SD setempat. Meski mengaku berat dan susah menelan makan, namun rasa sakit itu tidak pernah dirasakan selama bertahun-tahun. "Saat itu, ada benjolan kecil yang menempel di leher sebelah kiri. Makin lama, benjolan itu makin membesar," kata adiknya, Sri Wahyuni (20) kepada wartawan di RSU Pamekasan, Senin ((15/2/2010).
Karena tak mampu pergi ke dokter, Misbahanah dan ibunya yang ditampung kerabatnya karena ditinggal bapaknya, Supardi meninggal dunia sejak kecil, hanya dibawa ke dukun desa untuk menjalani perawatan alternatif. Hingga akhirnya berat benjolan itu mencapai 3 kg.
Mengetahui Misbahanah tercatat sebagai RTM (Rumah Tangga Miskin), beberapa wartawan melakukan mediasi dengan pihak RSU Pamekasan. Rupanya pihak RS langsung berkunjung dan membawa Misbahanah ke RS. Setelah menjalani pemeriksaan laborat, Misbahah menjalani siap menjalani operasi.
Direktur Operasional RSU Pamekasan, dr Iri Agus Subaidi, mengatakan, tumor yang menggantung di leher Misbahah itu tergolong jinak. Meski begitu, tumor itu bisa merenggut nyawanya jika tak diangkat.
"Syukurlah pak bupati berkenan membantu dan menanggung seluruh biaya operasi tumor Misbahah," kata dr Iri Agus.
Menurutnya, Misbahanah harus menjalani puasa untuk operasi yang dijalani. Operasi itu akan dipimping oleh dr Puguh SpB. (fat/fat)










































