Dituduh Makan Uang Haram, Murid SD Trauma Sekolah

update

Dituduh Makan Uang Haram, Murid SD Trauma Sekolah

- detikNews
Jumat, 12 Feb 2010 17:02 WIB
Mojokerto - Galang Yoga Samanta (12), murid SDN Magersari II, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, terpaksa membolos sekolah. Galang, malu dan trauma karena dituduh guru agamanya, telah memakan uang haram, sehingga menjadi anak yang nakal.

"Saya dituduh oleh guru agama, memakan uang haram sehingga nakal. Saya lalu tanya ke ibu, kata ibu kerjanya juga halal," kata Galang, kepada detiksurabaya.com di rumahnya, Lingkungan Mulyosari II, Kelurahan Magersari, Jumat (12/2/2010).

Galang sering kali dihina guru agama kelas VI, Imroatul Marhamah. Menurut Galang, guru agamanya itu kerap menyindir dirinya dengan sebutan hewan. "Saya salah apa, sehingga dikatakan seperti hewan," ujar Galang, dengan mengusap air mata.

Puncak kejengkelan Galang, terjadi pada Kamis (11/2/2010) kemarin. Anak pertama pasangan Imam Wahyudi (37) dan Dwi Astuti (31) ini, meninggalkan kelas karena diejek guru agamanya tersebut. "Anak saya pulang dengan menangis," ungkap ibu Galang, Astuti.

Karena tidak terima dengan hinaan yang diterima anaknya, Astuti lalu pergi ke SDN Magersari II, untuk meminta penjelasan. Namun sesampai di ruang guru, Astuti, malah diusir oleh para guru. "Ini sudah keterlaluan, pendidikan seperti apa ini," kata Astuti.

Ditemui di ruang guru Dinas Pendidikan Kota Mojokerto, Imroatul Marhamah, membantah keterangan Galang. Menurutnya, dirinya hanya mengajarkan materi makanan halal-haram serta dampak jika mengkonsumsi makanan haram.

"Kalau anaknya tersinggung dengan materi pelajaran yang saya sampaikan, ya saya tidak tahu. Tapi saya tidak menyebut nama siapa pun, termasuk Galang," kata Marhamah, dengan didampingi 2 guru lain di kantor Dinas Pendidikan Kota Mojokerto.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mojokerto, Soeharto, menyatakan masih mempelajari kasus ini. Kedua pihak akan dimintai keterangan. "Prinsipnya kami ingin kedua pihak berdamai dan saling memaafkan. Soal sanksi, tentu masih dipelajari," pungkas Soeharto.
(bdh/bdh)
Berita Terkait