"Awalnya daging di hidung anak saya itu hanya sebesar telur. Namun lama kelamaan menjadi besar seperti sekarang ini," tutur orangtua Ayu Agustin, Ny Suwati Babun kepada wartawan di rumahnya, Kamis (11/2/2010).
Karena daging benjolan itu semakin besar, bocah yang masih belum tahu apa-apa itu tidak bisa tidur dengan tengkurap. Bahkan, kedua matanya kini semakin sipit tidak bisa melihat ke kanan kiri, karena benjolan daging itu semakin hari semakin membesar.
"Kalau tidur ya harus terlentang. Anak saya tidak bisa tidur tengkurap karena ada benjolan itu," tambah Ny Suwati Babun dengan mimik sedih.
Pasutri itu sebenarnya menginginkan anak ketiganya itu bisa sembuh dari kelainan yang dideritanya sejak lahir. Namun apa boleh buat, karena mereka hanya bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya tidak seberapa.
"Saya hanya kerja sebagai buruh tani. Bisa makan saja setiap harinya kita sudah bersyukur," tandas Sunarsi, suami Ny Suwati Babun.
Salah seorang dokter Puskesmas, Kecamatan Banyuanyar, dr Susanto Arifin mengatakan, penyakit kelainan yang diderita oleh Ayu Agustin itu dinamakan Nozzle Meaning atau tidak terbentuknya tempurung kepala secara normal.
"Karena tidak terbentuk dengan normal itu, sehingga berakibat cairan otak mengalir ke bagian hidung dan menjadi gumpalan daging," katanya.
Untuk menyembuhkan penyakit yang diderita Ayu Agustin, kata dr Susanto Arifin, harus dilakukan operasi. Karena jika hal itu tidak segera dilakukan, khawatir benjolan daging itu akan semakin besar.
(bdh/bdh)











































