"Biasanya kalau gak di gendongan, ya di kereta dorong dan duduk-duduk di kursi. Memang anak kami ini belum bisa berjalan, ya kemana-mana harus kami yang membantunya," ungkap Sulistyowati, ibu kandung Ramdan yang berprofesi sebagai PNS, saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Senin (8/2/2010).
Serangan sirosis billier pada Ramdan sendiri diketahui oleh keluarganya sejak usia 7 bulan, meski gejalanya sudah mulai tampak sejak usianya menginjak 2 bulan. Saat itu tanda-tanda fisiknya lemas, kulit tampak kuning kehitam-hitaman, kelopak mata menguning, air seni berwarna kuning pekat dan selalu kesakitan saat buang air besar.
Tak menyangka terdapat kelainan hati pada anaknya, Ramdan pada saat itu hanya diobatkan ke puskesmas tak jauh dari rumahnya.
"Saat itu petugas medis di puskesmas tidak mendeteksi adanya gangguan hati. Tapi sejak saat itu kondisinya terus memburuk dan kami putuskan membawanya ke RS Baptis Kediri dan RSU dr Soetomo Surabaya, dan sejak saat itu kami tahu jika ada kelainan hati pada anak kami," jelas wanita yang sehari-hari menjadi guru di SDN 1 Gandusari, Trenggalek.
Meski saat ini kondisinya tampak sehat, setiap 2 bulan sekali Ramdan dan keluarganya wajib mendatangi RSU Dr Soetomo Surabaya untuk melakukan kontrol.
Akibat serangan sirosis billier, tak hanya gangguan berjalan yang dialami Ramdan Aldil. Dari sisi pertumbuhan fisiknya, putra terakhir dari 3 bersaudara ini juga nampak berbeda dengan balita seusianya. Bagian perutnya tampak membuncit, sementara kedua kakinya tampak kecil dan tak sebanding dengan ukuran tubuhnya.
(fat/fat)










































