Rumah-rumah yang dihuni puluhan tahun itu ludes sesaat meninggalkan rumahnya ke sawah. Halil dan Saru memang bersaudara dan mendirikan rumah berhimpitan. Lima tahun lalu, Halil dan Saru sama-sama menambah satu unit bangunan rumah. Rumah itu diberikan kepada masing-masing anaknya.
"Tapi sayangnya, keempat rumah senilai Rp 200 juta itu malah ludes terbakar," kata Yulianto (18), keponakan Halil yang ditemui saat mengobati luka bakar di telapak tangannya di Puskesmas Proppo, Senin (18/1/2010).
Yulianto mengaku, kebakaran diduga karena korsleting listrik di rumah Halil. Sebab, nyala api berawal dari rumah Halil. Korsleting listrik diduga terjadi karena rumah Halil dan Saru dalam kondisi kosong. "Tak ada kegiatan memasak di dapur. Semua kompor telah dimatikan sebelum kami semua pergi ke sawah," tutur Halil yang masih tampak shock saat mengantar Yulianto ke puskesmas.
Halil menjelaskan, Senin pagi sekitar jam 05.30 WIB, berangkat ke sawah. Halil mengajak istri dan anak mantunya ke sawah. Begitupula yang dilakukan Saru. Dua jam berada di sawah, Halil dan Saru dikejutkan dengan teriakan warga yang berteriak jika rumahnya terbakar.
Karena angin berhembus kencang, puluhan warga setempat tak mampu menjinakkan api. Lidah api dengan cepat meluluhlantakkan 4 unit rumah Halil dan Saru. Apalagi 1 unit mobil pemadam milik Pemkab Pamekasan terlambat datang. Mobil PMK tiba setelah rumah ludes terbakar. Petugas PMK hanya memberikan pembasahan di puing-puing rumah.
"Seluruh isi rumah ludes terbakar tanpa tersisa," kata Halil. Untuk sementara Halil dan Saru akan tinggal di rumah kerabatnya yang juga tinggal di Desa Toket.
(fat/fat)










































