"Kita tetap beroperasi meskipun ombak besar," tutur seorang pemilik kapal penumpang bernama Halim (40), saat ditemui detiksurabaya.com di pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo, Minggu (17/1/2010).
Halim sendiri mengoperasikan kapal penumpangnya bersama seorang kernetnya, Misdar. Saat membawa penumpangnya, Halim mengaku harus lebih berhati-hati mengingat cuaca laut kini sedang buruk.
Menurut warga asal pulau Gili itu, pengoperasian kapal penumpangnya memang tidak seperti hari-hari biasanya. "Kalau hari-hari biasa (ombak tidak besar,red), biasanya mengangkut penumpang sampai malam hari. Tapi kalau cuaca buruk seperti ini kita tidak berani mengangkut penumpang sampai malam hari," katanya.
Meski harus menghadapi resiko maut, kata dia, ongkos penumpang tetap seperti biasa, Rp.5000 per-orang. Kebanyakan para penumpang yang menaiki kapalnya berasal dari pulau Gili yang hendak belanja ke Kota Probolinggo.
"Kalau warga Kota Probolinggo mau ke pulau Gili sangat jarang. Apalagi kondisi cuaca seperti ini. Mereka tambah takut," tambah lelaki yang mengaku sudah mempunyai dua orang anak itu.
Akibat buruknya cuaca laut itu, Halim mengaku penghasilan dalam sehari berkurang jauh. Dalam sehari Halim hanya memperoleh penghasilan Rp 50.000 hingga Rp 75.000. "Kalau hari-hari biasa memperoleh Rp 150.000 sampai Rp 165.000," katanya.
Pantauan detiksurabaya.com di lapangan, cuaca buruk di perairan laut Tanjung Tembaga hingga ombak setinggi 3 meter, membuat ratusan kapal nelayan berhenti mencari ikan. Mereka terpaksa harus menyandarkan kapalnya di pelabuhan.
Salah seorang nelayan, Misbah mengatakan, tidak beraninya para nelayan turut melaut karena ombaknya besar. "Kita tidak mau menempuh resiko. Daripada nanti melaut terjadi apa-apa, lebih baik kita tidak melaut," ungkapnya
(bdh/bdh)











































