Pemblokiran jalan tersebut dilakukan dengan cara menumpuk batu dan kayu di tengah jalan serta menghadang belasan mobil milik perusahaan migas tersebut. Warga yang menolak kegiatan uji siesmik itu juga terlihat membawa senjata tajam (sajam) dan pentungan, Jumat (15/1/2010).
Ketua Forum Kiai Muda (Forkim) Kabupaten Sumenep, KH Jurjis Muzammil, mengatakan, penolakan warga terhadap uji siesmik dilakukan karena trauma terjadi hal yang tidak diinginkan seperti di Sidoarjo.
Namun dari pihak perusahaan tetap memaksa untuk beraktivitas sehingga hampir terjadi pembakaran terhadap mobil pick up dan alat berat lainnya yang hendak masuk kelokasi.
"Warga menolak uji siesmik," tegas Jurjis, pada wartawan di jalan umum Desa Pragaan Daya, Kecamatan Pragaan, Sumenep.
Untuk itu, dia meminta pihak perusahaan agar tidak memaksa melakukan aktivitas sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebab, sebulan yang lalu, aksi yang sama juga terjadi di Desa/Kecamatan Guluk-Guluk dan terjadi aksi anarkis.
Sementara, hingga saat ini belum ada penjelasan resmi atas kejadian tersebut dari perusahaan. Telepon seluler Humas SPE Petroleum, Dody Ibnu Fajar sulit dihubungi.
(bdh/bdh)











































