Menurut Asmar, sebelum ayam-ayamnya mati serentak Rabu (14/1/2010) dini hari tadi, pihaknya telah melaporkan kondisi ayamnya ke Dinas Peternakan.
"Dua hari sebelum ayam saya mati serentak, sejumlah staf Dinas Peternakan kemudian melakukan vaksinasi dan menyemprotkan cairan penangkal penyebaran virus flu burung," jelas Asmar kepada detiksurabaya.com saat dihubungi.
Sayangnya, vaksinasi dan penyemprotan anti virus flu burung tersebut tetap tak mampu menangkal serangan virus mematikan. Sebab, sejak Rabu (13/1/2010), satu persatu ayam petelor itu menggelepar dan mati.
Dibantu anggota keluarganya, Asmar kemudian membakar dan mengubur ayam-ayam yang mati agar tak menular ke ayam petelor yang masih hidup. Namun usaha Asmar sia-sia.
"Kamis dini hari tadi ratusan ekor ayam milik saya ludes tak bersisa. Semuanya mati di dalam kandang," kata Asmar sedih.
Asmar mengaku mengalami kerugian jutaan rupiah. Sebab, ayam petelor itu masih dalam usia produktif. Untuk memotong mata rantai penyebaran flu burung, Asmar akan mengosongkan kandang ayam miliknya selama 3 bulan.
"Saya istirahat dulu. Ketimbang kembali merugi, saya akan membiarkan kandang ayam itu kosong," cetus Asmar.
Sementara secara terpisah, Kepala Dinas Peternakan Pamekasan, Hanafi Hendriyansyah, membenarkan serangan flu burung peternakan ayam petelor milik Asmar tersebut. "Kami telah melakukan sterilisasi kandang ayam Pak Asmar," katanya saat dihubungi. (fat/fat)










































