3 Mahasiswa Sumenep Peserta Mogok Makan Kritis

3 Mahasiswa Sumenep Peserta Mogok Makan Kritis

- detikNews
Rabu, 30 Des 2009 11:25 WIB
3 Mahasiswa Sumenep Peserta Mogok Makan Kritis
Sumenep - Memasuki hari kedua aksi mogok makan, 3 orang aktivis mahasiswa mengalami kritis. Para mahasiswa ini memprotes keras kebijakkan APBD 2010 Pemkot Sumenep yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.

Ketiga mahasiswa kritis ini yakni, Anwar dan Jauhari, mahasiswa asal Komisariat PMII Universitas Wiraraja (Unija), serta Nahrawi, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usmuni (STITA), Sumenep.

Dari pengamatan detiksurabaya.com, di halaman gedung DPRD Sumenep, Jalan Trunojoyo, Rabu (30/12/2009), Kondisi ketiga mahasiswa yang mogok makan sejak, Selasa (29/12/2009) kemarin itu lemas dan sulit bergerak. Mulut mereka masih tetap ditutup lakban warna hitam.

Aksi mogok makan yang dilakukan 10 orang aktivis mahasiswa tersebut merupakan bentuk protes keras terhadap APBD 2010 yang dinilai tidak memihak rakyat melainkan lebih banyak dialokasikan pada kepentingan pejabat.

Ketua PC PMII Kabupaten Sumenep, Adi Purnomo mengatakan, aksi mogok makan terus akan dilakukan selama tidak ada perubahan anggaran dalam APBD.

"Aksi mogok makan ini sebagai lambang bahwa masyarakat kelaparan karena APBD banyak dimakan pejabat," kata Adi pada wartawan di halaman gedung DPRD Kabupaten Sumenep.

Sedangkan agenda di kantor DPRD sendiri yakni jawaban bupati Sumenep, Ramdlan Siraj terhadap pandangan komisi-komisi terhadap hasil pembahasan APBD 2010.

Sementara, salah seorang anggota DPRD Sumenep, Dwita Andriani, mengatakan, sebagai wakil rakyat dari Partai Amanat Nasional (PAN) sudah berusaha dan melakukan pemangkasan anggaran yang diajukan komisi B.

"Usaha untuk memangkas anggaran yang tidak memihak rakyat sudah kita lakukan, hanya saja masih ada yang perlu dikritisi oleh teman-teman mahasiswa," kata Dwita pada wartawan saat menjengok peserta mogok makan.

Fraksi PAN, kata dia, selama ini sangat kritis dengan anggaran yang kurang obyektif dan terkesan hanya dihambur-hamburkan untuk belanja pejabat.

"Dengan dukungan mahasiswa ini berarti peluang untuk mencoret atau melakukan penyempurnaan APBD mempunyai peluang besar," ujarnya.
(bdh/bdh)
Berita Terkait