Satu tahun lalu, pabrik tahu milik Haji Umar berhenti beroperasi. Umar benar-benar bangkrut. Lima belas orang karyawannya di-PHK. Pabrik tahu yang berada di samping rumahnya di Desa Dasuk, Pamekasan berubah menjadi gudang.
Sejak usahanya bangkrut itulah, kondisi psikologis Umar drop. Umar yang periang berubah pendiam. Umar tampak depresi berat dan sering mengurung diri.
Keluarga Umar tak tinggal diam. Mereka bergantian memberi nasehat dan motivasi. Pencerahan datang juga dari segenap sahabatnya. Termasuk Dedy, sahabat Yasin, kakak ipar Umar.
"Pada awalnya Umar bisa kami bangkitkan semangatnya. Malahan Umar sempat mencoba membangun usaha pabrik tahu miliknya," kata Dedy kepada detiksurabaya.Com, Minggu (06/12/2009).
Sayangnya Umar tak mampu bersaing dengan usaha tahu yang lain. Umar kembali menutup pabrik tahunya. "Lagi-lagi Umar terpuruk. Belakangan kondisi psikis Umar mirip orang gila," tutur Dedy.
Melihat perubahan psikis itu, Umar lalu dibawa ke rumah sakit. Namun Umar tetap tak berubah. Akhirnya, Umar diobati ke sejumlah orang pintar dan dukun. Tapi, kondisi psikis Umar malah makin drop dan sering mengamuk.
"Khawatir menyerang orang lain, akhirnya Umar dipasung," ungkap Dedy. Umar dipasung dengan cara kedua kaki dirantai. Umar dikurung di sebuah kamar di rumahnya sendiri.
Kini seluruh keluarga Umar bergantian mengamankan kamar Umar. Siang dan malam mereka bergiliran merawat Umar. Termasuk menyuapi makan dan memandikan Umar.
(wln/wln)










































