Tragedi Itu Dikaitkan Munculnya Macan Putih

Bocah Tenggelam di Bendungan Samiran

Tragedi Itu Dikaitkan Munculnya Macan Putih

- detikNews
Jumat, 04 Des 2009 10:05 WIB
Pamekasan - Bendungan Samiran di Desa Talango, Kecamatan Propo, Pamekasan dipercaya warga setempat menyimpan banyak misteri. Warga yang tinggal di kawasan itu mempercayai kalau bendungan itu ada 'penunggunya'.

Masyarakat mempercayai penghuni tempat menampung air itu adalah macan putih. Banyak warga yang mengaku pernah melihat macan putih melintas di sekitar bendungan. 

Warga sekitar juga mempercayai kematian Jupri (13) salah bocah desa setempat disebabkan 'sang penjaga; bendungan meminta tumbal. Warga mengkaitkan kematian Jupri dengan cerita itu. Pada kenyataannya Jupri sebenarnya tewas tenggelam karena diduga tidak bisa berenang. Jenazah Jupri ditemukan mengambang di bendungan, Kamis (3/12/2009) malam.

"Benar Pak. Saya dan istri beberapa kali melihat ada macan putih melintas di atas air
bendungan. Tapi penampakan itu berlangsung cepat. Tak sampai semenit, sosok macan putih itu menghilang di bawah pintu air bendungan," kata Musyafak, staf Dinas Pengairan yang bertugas menjaga bendungan kepada detiksurabaya.com, Jumat (4/12/2009).

Musyafak menuturkan macan putih itu menampakkan diri pada saat matahari mulai tenggelam. Tapi, seusai adzan Magrib, macan putih itu lenyap. Kadang kata Musyafak macan itu lenyap di bawah pintu air bendungan. Kadang pula menghilang di hutan Jati di sebelah utara bendungan.

Musyafak yang sudah 10 tahun bertugas menjadi penjaga bendungan mengatakan seringkali melihat paranormal datang ke kawasan itu. Paranormal ini kata dia mencoba memindahkan macan putih itu dari bendungan agar tak ada yang tewas tenggelam di tempat itu.

"Tapi, semuanya sia-sia. Korban tenggelam masih saja terjadi di Bendungan Samiran
ini," tuturnya.

Dia mengungkapkan korban yang tenggelam di bendungan itu kebanyakan remaja dan berumur belasan tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Selama dirinya menjaga bendungan itu tidak ada anak perempuan yang tewas tenggelam di kawasan itu. Setiap tahun jika ada yang tewas di tempat itu jumlahnya selalu genap.

"Tahun lalu korban tenggelam yang meninggal berjumlah dua anak. Tiga tahun lalu ada empat anak meninggal karena tenggelam di bendungan. Tahun ini ada empat yang meninggal," ungkapnya.

Terlepas dari kepercayaan masyarakat korban tewas tenggelam di bendungan yang dibangun tahun 1971 itu kata dia tidak bisa berenang. Ketidakmampuan berenang itu didengar Musyafak dari para kerabat korban tewas.

Wajar saja jika dia memperoleh banyak cerita dari para kerabat korban. Setiap terjadi musibah tenggelam dia selalu terlibat dalam proses evakuasi. Bahkan mushola kecil yang berhimpitan dengan rumah dinasnya selalu dijadikan tempat visum dan pengambilan identifikasi korban oleh polisi. (wln/wln)
Berita Terkait