Puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kota Kediri menggelar orasi di depan pengadialn sambil membentangkan sejumlah poster. Sebagian massa bergiliran membacakan puisi berisi kecaman proses sidang.
"Sebiji semangka tidak ada artinya dibandingkan pajak-pajak yang tidak tahu entah kemana. Sebiji semangka tak sebanding dengan tindakan tikus-tikus berdasi. Kami sedih, kami menangis melihat kondisi peradilan Indonesia," teriak Ulun Nia'am, salah seorang massa dalam puisinya, Selasa (1/12/2009).
Selain menggelar orasi terbuka dan membacakan puisi, massa melakukan tabur bunga di depan PN Kota Kediri. Mereka menganggap kepekaan sosial peradilan Indonesia telah mati dengan menyidangkan perkara-perkara sepele dengan pelaku rakyat miskin.
Massa juga menyerahkan 2 botol minuman air mineral dalam kemasan botol kepada keluarga terdakwa sebagai simbol dukungan moral. "Tidak hanya sekarang, tapi kami pastikan akan kawal perkara ini. Kami ingin pengadilan peka melihat aspek sosiologis, tidak hanya menyidangkan rakyat miskin, tapi yang kaya dibebaskan," tegas Ulun Ni'am.
Meski berlangsung damai dan tertib, aksi ini mendapatkan penjagaan ketat
dari polisi. Usai melakukan aksinya, massa langsung membubarkan diri dengan tertib, bersamaan keluarga terdakwa meninggalkan PN Kota Kediri.
(fat/fat)











































