Fakta ini diungkapkan LSM Suara Nurani yang mengkhususkan aktivitasnya pada pendampingan terhadap Pekerja Seks Komersial (PSK) dan penanganan terhadap penderita HIV/AIDS.
Berdasarkan survey yang telah dilakukan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), di Kabupaten Kediri jumlah penderita AIDS diestimasi telah mencapai 990 orang. Namun, dari jumlah itu yang telah terdeteksi hanya 141 orang. Dengan estimasi itu sedikitnya 850 penderita positif HIV/AIDS hingga saat ini tidak terdeteksi keberadaannya.
"Hasil penyelidikan kami sendiri jumlah itu saat ini sangat mungkin bertambah, karena survey KPAN sudah dilakukan sejak akhir tahun 2006 yang lalu," jelas Ketua LSM Suara Nurai Sanusi saat ditemui detiksurabaya.com di sekretariatnya, Desa Sukorejo, Kecamatan Gampengrejo, Selasa (1/12/2009).
Dalam survey-nya, KPAN melakukan dengan memeriksa jumlah PSK dan pelanggannya, jumlah pengguna narkoba melalui jarum suntik, serta jumlah masyarakat berisiko tinggi, seperti gay dan waria.
Pemkab Kediri Diminta Tanggap
Dengan catatan tersebut, Sanusi meminta Pemerintah Kabupaten Kediri cepat tanggap dan menjadikan penanganan terhadap penyebaran HIV/AIDS sebagai salah satu kinerja utama. Teknisnya, dapat dilakukan melalui penyuluhan ke masyarakat secara luas.
Dari 141 penderita AIDS yang terdeteksi, 14 orang diantaranya ibu rumah tangga yang tertular dari kebiasaan suaminya berkencan dengan PSK di eks lokalisasi. Munculnya fakta 850 masyarakat penderita HIV/AIDS yang tidak terdeteksi keberadaannya dibenarkan Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri.
"Dari jumlah 850 orang, kami memperkirakan sebagian besar merupakan pelanggan PSK yang justru kami anggap sangat berbahaya. Mereka bisa saja menyebarkan luaskan penyakitnya, tidak hanya ke PSK lainnya. Tapi yang menakutkan adalah ke istri dan keluarganya," jelas Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Langsung (P2ML) Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri Nur Munawaroh.
Untuk mencari keberadaan 850 penderita AIDS yang tak terdeteksi, Dinas Kesehatan tengah gencar melakukan sosialisasi dan pendataan langsung ke masyarakat, dengan menggandeng sejumlah tenaga lepas. Diharapkan, penderita tersebut secepatnya ditemukan dan diberikan penanganan dengan baik.
"Nggak gampang memang, karena susah mencari orang yang mau dicap dirinya pelanggan PSK. Lebih gampang mencari PSK-nya, karena setiap wanita yang bekerja di lokalisasi tidak akan mungkin kalau disebut PSK. Tapi ini PR bagi kami yang harus kami selesaikan," pungkas Nur. (bdh/bdh)











































