Sapto dituntut bertanggung jawab atas dugaan pencabulan yang dilakukannya pada 3 siswi dan seorang bawahannya yang bertugas di bagian tata usaha.
Wali murid ini tampak emosi. Tanpa basa-basi sekitar 50 orang masuk ke dalam gedung sekolah. Mereka berteriak dan memaki-maki sembari mencari Sapto Susilo, Senin (30/11/2009).
"Mana Kaseknya, kasek kurang ajar di mana kamu, keluar temui kami, keponakan saya diperkosa sama dia, kasek kurang ajar," teriak Ilyas, salah seorang wali murid penuh emosi.
Satu per satu ruangan, termasuk ruangan kepala sekolah didatangi wali murid. Namun yang dicari tak dijumpai. Massa mengancam tidak akan pulang sebelum Sapto menemui mereka.
Aksi ini buntut dari dugaan pencabulan yang dilakukan Sapto Susilo terhadap 3 siswi, dan seorang pegawai perempuan tata usaha (TU). Perbuatan cabul itu disinyalir kerap terjadi dan memakan banyak korban.
Menurut para wali murid, terakhir ulah pencabulan dilakukan Sapto ke staf TU. Staf itu digerayangi di beberapa bagian sensitifnya saat berada di ruang Kasek. Bahkan setelah berbuat, Sapto memberikan sejumlah uang ke korban.
"Sampai hari ini staf TU itu tidak berani masuk kerja, dia trauma. Kami menuntut Sapto untuk dipecat tidak hormat," tandas Taufik, wali murid dari siswa yang menjadi korban cabul Sapto.
Sapto Membantah
Sementara Sapto saat ditemui di kantin sekolah untuk bersembunyi menepis tuduhan itu. Kasek yang kerap dipindah tugas lantaran berbagai masalah itu mengaku jika hanya mencubit dagu dan pipi korban.
"Uang itu saya berikan sebagai uang makan, dan saya hanya mencubit pipinya saja.
Hubungan saya sebatas bapak kepada anak," ungkap Sapto sambil menutup mukanya saat disorot kamera wartawan.
Untuk menghindari amuk massa, Sapto diamankan polisi ke Polsek Wongsorejo. Karena peristiwa tersebut aktivitas belajar mengajar siswa sempat terhenti. Para siswa ketakutan melihat para orangtua datang penuh emosi ke sekolahnya. (wln/wln)










































