Namun itu tak membuat jera. Salah satu rumah warga yang berada di Slopeng, Kecamatan Dasuk, Sumenep sempat dibakar awal tahun 2000 namun saat ini kembali eksis.
Bahkan rumah yang berbentuk huruf L itu tetap ramai dikunjungi para lelaki hidung belang. Rumah itu terhadap 4 kamar yang semuanya menghadap ke arah barat. Sementara bagian rumah yang menghadap ke selatan tempat tinggal pemilik rumah.
Rumah itu sangat terkenal untuk wilayah utara kota. Bahkan, bagi lelaki hidung belang merasa tidak puas bila tidak mampir ke tempat itu. Rumah yang berdiri sejak tahun 1990 dan berukuran cukup besar ini berada tak jauh dari masjid.
PSK yang ada di tempat itu banyak yang dari luar Madura. Tarifnya bervariasi yakni pada kisaran Rp 35 ribu-Rp50 ribu. Semuanya tergantung kelihaian nego para tamu.
Salah seorang PSK yang ditemui di kostnya, Desa Semaan, Kecamatan Dasuk, Ririn R (32) mengatakan, setiap kali melayani tamu harus membayar uang kamar sebesar Rp 10 ribu pada pemilik rumah. Selain itu setiap kali mandi, Ririn juga harus membayar uang sebesar Rp 2.000.
"Jadi, yang didapat saya dalam satu kali melayani tamu tidak seberapa besar," kata Ririn pada detiksurabaya.com di rumah kostnya, Desa Semaan, Kecamatan Dasuk, Sumenep, Rabu (25/11/2009).
Meski demikian, setiap harinya Ririn R mampu mengumpulkan uang hingga Rp 250 ribu. Pada kondisi ramai, lelaki hidung belang bisa mencapai 14 orang. Saat sepi, berkisar 4 sampai 6 orang tamu. "Semuanya tergantung rejeki. Saya kerja seperti ini karena sudah tidak ada jalan lain," ujarnya.
Jaringan Sangat Rapi
Para PSK yang beroperasi di wilayah kota mempunyai jaringan rapi. Jaringan itu dibentuk untuk menghindari razia petugas. Bahkan, rumah warga yang menampung PSK tidak terang-terangan melayani tamu.
Rumah warga yang ditempati PSK dikemas dalam bentuk kost-kostan. Bila akan 'memakai' PSK harus dibawa keluar. Rumah warga yang dijadikan kos para PSK salah satunya ada di
Desa Pandian dan berdekatan dengan lembaga pendidikan.
Penelusuran detiksurabaya.com, di rumah warga itu ada 10 PSK yang usianya masih belia. Mereka biasanya melayani lelaki hidung belang di hotel atau di rumah warga yang khusus menyewakan kamar seperti di Desa Lalangon dengan berkedok menjual nasi.
Lokasi lain yang sering dijadikan transaksi esek-esek berada di Taman Adipura yang dikenal dengan Taman Bunga (TB). Setiap pukul 00.00 WIB, para PSKdan hidung belang ramai beraksi. Tempat lainnya di areal terminal lama serta salah satu warung di pintu masuk terminal baru.
Lapangan Terbang (Lapter) Trunojoyo dan jalan lingkar timur, juga dijadikan lokasi
yang nyaman untuk melakukan transaksi esek-esek. Bahkan, setiap malam terlihat
muda-mudi bermesraan dan tak jarang terjadi hubungan intim yang dilakukan diatas
motor maupun mobil.
Salah seorang lelaki hidung belang, MTF (39) asal Batang-Batang mengaku tidak sulit
mendapatkan wanita penghibur yang umurnya masih belia bila tahu jaringannya.
"Para PSK itu ada yang mencari sendiri. Ada pula yang menggunakan jasa orang lain.
Kalau sudah tahu jalurnya, kita aman melakukan hubungan dengan wanita. Tempatnya,
tergantung kita, ke hotel atau ke rumah warga yang menyewakan kaman," ungkap MTF
pada detiksurabaya.com seraya meminta namanya tidak disebut di Jalan Trunojoyo, Sumenep. (wln/wln)











































