"Sekitar 20 persen warga yang menggunakan jasa dukun bayi dalam proses melahirkan," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, Dr Susianto kepada detiksurabaya.com di kantornya, Jalan Dr Soetomo Sumenep, Senin (23/11/2009).
Namun, kata dia, bila berhubungan dengan aborsi pihaknya tidak ikut bertanggungjawab. Melainkan instansi lain yang berhubungan dengan penegakan hukum.
"Kalau ada praktek aborsi yang dilakukan oleh dukun bayi, maka Dinkes tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang bukan tanggungjawab kami," tegas Susianto
Tugas Dinkes, kata dia, terletak pada pembinaan dan kerjasama dalam menangani proses kelahiran. Di dalamnya, juga memberi pengertian baik pada dukun maupun pada masyarakat tentang bahaya dari sebuah aborsi.
Sementara ada beberapa dampak negatif bagi kaum ibu yang melakukan aborsi yakni bila masih ada sisa gumpalan darah atau jabang bayi maka bisa jadi sulit hamil, akan mengalami pendarahan terus-menerus, bisa infeksi serta akan terjadi kematian pada ibu.
"Jadi, risikonya sangat tinggi bila melakukan aborsi," katanya.
Untuk menekan angka aborsi dan melahirkan yang masih menggunakan dukun bayi, Dinkes Sumenep memprogramkan agar bidan desa mendatangi rumah-rumah warga.
"Sehingga, komunikasi antara masyarakat dengan bidan bisa terjalin dengan baik. Dampaknya, bila akan melahirkan tentunya merasa butuh pada bidan," ungkapnya.
(fat/fat)











































