4 Desa yang terisolir adalah Desa Kradenan, Desa Sidomulyo, Desa Poko dan Desa Sengon. Material tanah bercampur lumpur dan bebatuan, saat ini menutup akses jalan di 4 desa tersebut, hingga masyarakat yang tinggal tidak dapat saling berinteraksi.
Ambrolnya bukit di Desa Kradenan bermula dari turunnya huan deras sejak Selasa (17/11/2009) malam, hingga Rabu (18/11/2009) dinihari. Tekstur tanah di perbukitan yang labil, diduga tak kuat menahan derasnya air hujan, hingga mengakibatkannya ambrol.
"Warga yang tinggal tak jauh dari lokasi, bahkan sempat mendengar suara gemuruhnya. Bisa dibayangkan bagaimana kejadiannya, mungkin memang sangat mengerikan," ujar Kepala Desa Kradenan, Dwi Sunarhaji, saat ditemui wartawan di lokasi kejadian, Rabu (18/11/2009) sore.
Akibat dari kejadian tersebut, Dwi mengaku belum bisa mengetahui besaran kerugiannya. Meski demikian, apabila kondisi ini tidak segera ditangani, kerugian perhari bisa mencapai Rp 24 juta.
"Itu dari aspek ekonomi masyarakat saja, karena memang disini daerah penghasil susu. Hari ini saja, ada sekitar 8 ton susu yang gagal dikirimkan karena memangĀ jalannya terputus," ungkap Dwi.
Untuk bisa memindahkan material longsoran, warga masyarakat dengan dibantu aparat TNI, hingga Rabu sore masih berupaya melakukannya. Meski demikian, keterbatasan peralatan menjadikan pekerjaan tersebut tidak bisa dilakukan secara maksimal.
Sementara untuk menghindari kemungkinan terjadinya bencana susulan, sejumlah warga yang tinggal di lereng bukit memilih mengungsi. Mereka, ada yang memilih balai desa sebagai tempat tinggal sementara, dan sebagian lainnya memilih bertempat tinggal di rumah saudara yang dianggap aman.
(bdh/bdh)











































