Berdasarkan laporan dari orangtua si bayi, Reli Hartani (22) dan Mohammad Noryani (25), warga Desa Kertasada Kecamatan Kalianget, polisi memeriksa 3 perawat dan 1 dokter anak serta direktur RSU dr Moh Anwar.
Kasat Reskrim Polres Sumenep, AKP Mualimin mengatakan dugaan bola mata yang keluar karena ada kesalahan penanganan medis akan diproses hingga tuntas.
"Kasus ini tetap akan diusut hingga tuntas," kata Mualimin pada wartawan di ruang kerjanya, Jalan Urip Sumoharjo, Selasa (17/11/2009).
Rencananya, Polres Sumenep juga akan melakukan pemeriksaan terhadap beberapa orang lagi. Polisi akan memeriksa 3 dokter yakni dokter spesialis kandungan, dokter anak, dan dokter mata.
Peristiwa ini bermula saat Reli Hartani (22) tidak bisa melahirkan dirujuk ke RSU dr Moh
Anwar Sumenep. Sesampai di RS langsung melahirkan meski tanpa proses kelahiran.
Bayi yang lahir prematur memiliki berat 1.600 gram itu diduga oleh dokter terinfeksi virus ganas. Bahkan saat keluar dari rahim ibunya, sang jabang bayi terkena air ketuban yang keruh dan berbau.
Si bayi juga tidak menangis dan nafasnya tidak stabil. Dokter pun segera merawat bayi yang lahir 12 Oktober 2009 lalu di ruang ICU. Dalam perkembangannya, bola mata kiri si bayi bernanah dan keluar darah. Lambat laun setelah dirawat, bola matanya kempes dan lepas.
Melihat kondisi anaknya mengalami hal yang tidak wajar, pasangan suami istri (Pasutri), Reli Hartani (22) dan Mohammad Noryudi (25) melaporkan kasus itu ke polisi. Keluarga menuding pihak rumah sakit melakukan kesalahan dalam menangani bayi dan mencongkel mata anaknya. (wln/wln)











































