Pemberian vaksin SE mulai dilakukan sejak 1 bulan lalu. Dari populasi sapi di Kabupaten Kediri sebanyak 86 ribu ekor, 1.100 ekor diantaranya telah divaksin. Pemberian vaksin ditekankan pada sapi yang dibudidayakan di tepi sungai, seperti di sepanjang Sungai Brantas.
"Kalau bahasa kedokteran hewan namanya SE, tapi kalau di pasaran pedagang nyebutnya sakit ngorok," terang Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri Sri Suparmi ditemui detiksurabaya.com di sela-sela kegiatan sosialisasi di Kompleks Kantor Pemkab Kediri, Kamis (12/11/2009).
Dipilihnya sapi di bantaran Sungai Brantas untuk pemberian vaksin SE, tak lepas dari temuan fakta, penyebaran penyakit ngorok pada ternak sapi biasa terjadi melalui air sungai.
"Apalagi kalau ternak sapi untuk mandinya dilakukan di aliran sungai, kemungkinan terjangkit akan sangat besar. Oleh sebab itu, sebelum nantinya ditemukan kasusnya, kami sudah berupaya melakukan persiapan," jelas Sri.
Pemberian vaksin SE juga dilakukan secara rutin, terutama saat memasuki musim hujan.
"Lazimnya penyakit ngorok memang mewabah di musim penghujan. Karena secara kebetulan musim hujan tahun ini datang tepat saat jelang Idul Adha, ya sekalian ini untuk antisipasi sebelum sapi tersebut dipasarkan dan disembelih," ungkap Sri.
Penyakit ngorok ini tetap dianggap berbahaya, meski tidak menular ke manusia. Karena sapi yang terjangkit mengalami penurunan nafsu makan dan berujung kematian.
Pihak Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kediri juga mengaku sudah menambah stok sejumlah obat. Terutama untuk ternak domba dan kambing yang biasanya akan terjangkiti 3 jenis penyakit. Yakni gangguan pada mata atau ping eye, alergi kulit atau scarbies dan temuan bintik di sekitar mulut atau orf.
"Stok obat untuk 3 jenis penyakit tersebut kami pastikan tercukupi dan akan mulai kami distribusikan di sela-sela sidak ke pengepul dan pedagang," pungkas Sri. (fat/fat)











































