Tempat ibadah yang sedang dikebut pembangunannya itu diberi nama Pura Sunyaloka Gunung Srawet. Sebenarnya, usulan pembangunan pura tersebut sudah muncul sejak 1968 lalu. Namun baru terlaksana pada tahun 2005. Pembangunan itu dilakukan dua tahun setelah Pemerintah Desa Kebondalem menghibahkan lahan seluas 200 hektar.
"Akhirnya sesepuh Hindu Bangorejo, Mbah Sardjono, dan Parisade yang urus itu semua. Dan tidak ada masalah sampai sekarang," ungkap Humas Persatuan Pemuda Hindhu Darma Indonesia Bangorejo, Prastyo pada detiksurabaya.com, Jumat (30/10/2009).
Kini Pura yang kabarnya pembangunannya didanai pejabat asal Denpasar Bali, tersebut sedang dalam proses perluasan. Di Puncak Srandil, salah satu puncak yang ada di Gunung Srawet, tengah berlangsung pembangunan Candi Baradah.
Lantas, adakah kaitan aktifitas itu dengan rencana investor dari Bali yang berminat mengelola Gunung Srawet untuk dijadikan tempat wisata? Mengingat luasan tanah yang ditawarkan Pemerintah Desa Kebondalem ke investor sama persis luasnya dengan tanah yang dihibahkan untuk pembangunan tempat ibadah.
"Kalau di proposal lahannya seluas 200 hektar yang kami tawarkan ke investor untuk kerjasama pengelolaan Gunung Srawet sebagai tempat wisata," jelas Kepala Desa Kebondalem, Iksan, saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya.
(gik/gik)