Oknum LSM berinisial WS yang sering melancarkan aksinya ini mengaku sebagai Sekretaris LSM Kompak (Kelompak Masyarakat Pencari Keadilan, red).
"Dia itu bukan siapa-siapa. Bukan juga sebagai Sekretaris LSM Kompak," ujar Sekretaris LSM Kompak Probolinggo, Bambang Suprapto kepada wartawan, Kamis (22/10/2009) malam.
Akibat ulah pencatutan nama sekretaris itu, jajaran pengurus LSM Kompak merasa dirugikan. Itulah sebabnya, para jajaran pengurus mengultimatum akan melaporkan oknum WS ke polisi.
"Kalau dia masih berulah dan masih mengaku-ngaku sebagai sekretaris, kita tidak akan segan-segan melaporkannya ke polisi," tandas Bambang yang didampingi para pengurus lainnya.
Bambang menjelaskan, banyak pejabat pemkot yang menjadi korban akibat ulahnya. Tak hanya itu, tapi sejumlah kontraktor juga menjadi korban akibat ulahnya. Salah satunya, kontraktor bernama Munir. "Silahkan anda tanyakan sendiri pada orangnya," kata Bambang seraya menunjuk Munir di sampingnya.
Kepada wartawan, Munir mengaku sempat mendatangi pengurus LSM Kompak dan menanyakan apakah WS itu benar-benar sebagai sekretaris. "Saya memang sempat menanyakan apakah benar dia itu sebagai sekretaris LSM Kompak," katanya.
Ulah WS semakin menjadi-jadi ketika dia mengkitisi soal proyek jalan tembus di Jalan Brantas-Perum Bromo. "Proyek itu awalnya tidak ada masalah. Namun, tahu-tahu petani mengkomplin dengan keberadaan proyek itu," tandas Munir.
Sikap komplainnya petani itu, dengan melayangkan surat kepada pemkot dan meminta ganti rugi senilai Rp 10 juta. "Yang disoal oleh petani itu masalah tanah urukannya. Setelah diusut ternyata WS ini yang memprovokatori petani," katanya.
(bdh/bdh)










































