Puluhan anggota Ansor sesuai cerita yang berkembang dibantai secara licik dan sadis tanggal 18 Oktober 1965 silam. Mereka mengundang pemuda Ansor Muncar untuk menggelar pengajian bersama. Kedatangan para pemuda Ansor kala itu disambut anggota Gerwani yang menyaru sebagai Fatayat NU.
Mereka sekarat seusai menyantap hidangan beracun yang disuguhkan PKI. Sejurus kemudian, dengan membabi buta tubuh para pemuda Ansor dibantai dan ditumpuk dalam tiga lubang yang kini menjadi tetenger peristiwa tersebut.
Kini, saksi mata sejarah tersisa satu orang. Dia adalah Sumardi Jamal (78), yang sempat menyaksikan pembantaian keji itu secara langsung. Sayang, Sumardi Jamal sulit untuk ditemui. 2 tahun terakhir tubuh Sumardi mengalami Stroke.
"Mohon maaf mas, bapak belum bisa diajak komunikasi. Beliau sedang sakit stroke," jelas Wiwik, istri Sumardi saat detiksurabaya.com bertandang ke rumahnya, Rabu (30/9/2009).
Kemungkinan acara mengingat kekejaman PKI tak lagi ada. Biasanya tampak deretan tiang bendera merah putih di sepanjang jalan hingga menuju lokasi lubang buaya. Kini kebiasaan formalitas itu tak ada lagi sejak 2007, termasuk upacara yang biasa dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi. (fat/fat)











































