Sepanjang jalur ini nyaris semuanya kelokan tajam. Jika dilihat dari ketinggian, jalan gumitir bak seekor ular yang meliuk-liuk. Belum lagi, kondisi jalan yang naik turun, di sisi jalannya terdapat jurang dalam, punggung gunung menghadap kejalan dengan kemiringan nyaris 90 derajat menjad bahaya laten bagi pemudik.
Punggung gunung itu seringkali longsor, dan menutupi badan jalan. Sedikitnya 6 kali terjadi tanah longsor bercampur ranting pohon, sejak awal 2009. Rentetan tanah longsor biasanya terjadi di awal musim hujan tiba. Atau berlalunya musim panas. Saat itulah daya resap tanah akan rapuh.
Dari pantauan detiksurabaya.com, Selasa (15/9/2009) terdapat beberapa titik rawan longsor yang masuk wilayah Banyuwangi. Seperti di KM 3 atau tepatnya di tikungan patung gandrung. Di situ terdapat 3 tempat yang pernah longsor. Selain itu, di KM 7 juga pernah terjadi longsor besar hingga menutup badan jalan.
"Kewaspadaan dan hati-hati diperlukan saat melintas dijalur Gumitir," himbau Kanit Lantas Pos Genteng, Aiptu Prapto, saat ditemui detiksurabaya.com di kantornya.
Meski medannya lumayan berat, namun kekhawatiran itu akan berkurang dengan mulusnya jalan raya Gumitir. Lubang-lubang yang pernah menghiasi sudah tak terlihat lagi. Rambu-rambu peringatan cukup banyak terpasang. Terutama di titik-titik rawan terjadinya kecelakaan.
Jika pemudik mengantuk atau lelah, alangkah baiknya beristirahat sejenak di warung makan yang banyak tersebar di jalur tersebut. Jasa tambal ban 24 jam juga mulai banyak ditemui. Untuk gangguan kriminalitas, dipastikan jalur tersebut aman. Setiap 30 menit sekali petugas melakukan patroli hingga perbatasan Banyuwangi-Jember.
"Dengan upaya yang sudah ada, Insya Allah semuanya aman dan lancar," tambah Prapto, menyakinkan.
Namun pengendara juga harus waspada dengan arus lalu lintas di jalur itu. Pasalnya sejak H-7 kemarin, arus lalu lintas mulai padat lancar. Terlebih melintas di waktu malam hari, dengan hanya mengandalkan penerangan dari lampu kendaraan.
(bdh/bdh)










































