Salah satu sopir, Tri Waluyo (50) mengatakan dari 72 crew ada 24 armada mini bus keberatan jika terminal dipindah kecuali ada penambahan waktu jarak tempuh dari 2 jam menjadi 2 setengah jam untuk trayek Ngawi Bojonegoro-Tuban.
Dipindahnya terminal dan tidak ditambah waktu jarak, para sopir merasa dikejar waktu. Sementara jumlah penumpang belum maksimal untuk diangkut.
"Kita tidak setuju kalau terminal dipindah dan jam tempuh kita tidak ditambah untuk mencari penumpang. Jelas pemasukan kita kurang dong," jelas Tri jengkel kepada detiksurabaya.com di garansi PO Cendana Jalan Raya Ponorogo Kota Madiun, Jumat (11/0/2009).
Tri menambahkan selama ini untuk trayek Bus jaurusan Ngawi- Bojonegoro-Tuban dalam sehari mengangkut 1 setengan PP dan menghabiskan 90 liter BBM solar. Sedang pemasukan hanya Rp 300 ribu-Rp 500 ribu dalam 1 setengah PP yakni Ngawi-Bojonegoro-Tuban, Tuban-Bojonegoro-Ngawi dan finish Kota Bojonegoro pada malam harinya.
Sementara dari pantauan detiksurabaya.com para crew bus memarkir kendaraannya sebagian di pinggir Jalan Raya Ponorogo Kota Madiun. Dan para sopir, kondektur dan kernet terli hat duduk-duduk di trotoar sambil menunggu dinas terkait untuk memberikan solusi. (fat/fat)











































