"Bahaya bagi penderita HIV/AIDS dan kanker jika tidak teliti dalam mengonsumi obat. Akan mudah terkena Steven Jhonson. Untuk itu mereka harus hati-hati dan menceritakan kepada tim medis yang menangani," jelas Prof Dr dr HMS Chandra SpAK kepada detiksurabaya.com di RSU Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Ahli alergi di RSSA Malang ini mengungkapkan, dua penderita tersebut rentan terhadap Steven Jhonson Syndrome, dikarenakan salah satu penyebab dari SJS adalah infeksi yang ditimbulkan oleh virus.
Dan dua penyakit itu, yaitu HIV/AIDS dan kanker disebabkan karena virus. "Akan cepat jika dokter yang menangani tidak tahu rekam medis pasien. Atau penderita mengonsumsi obat dengan sendirinya," jelas Chandra.
Menurut Chandra, Steven Jhonson Sydrome bukan merupakan penyakit mematikan, angka kematian penderita ini masih kecil. Hanya saja jika tidak mendapatkan penanganan dengan baik virus dari infeksi akan cepat menyebar dan dapat mematikan.
Dari analisa medis, SJS dapat terjadi pada manusia 1 banding 100 juta orang. Jadinya dengan angka tersebut, akan sedikit dan jarang penyakit ini menimpa masyarakat. "Tidak mudah terserang, tapi kita harus hati-hati," imbuhnya.
SJS penyakit alergi yang pemicunya bisa dari obat-obatan, infeksi, kanker, dan penyebab yang tidak diketahui pasti atau idiopatik. Orang yang terkena SJS akan mengalami ciri seperti demam, nyeri kepala, lelah dan diare atau muntah-muntah. Sering pula diikuti dengan kelainan kulit seperti bernanah atau melepuh.
(fat/fat)











































